Senin, 29 November 2021
Rabu, 02 September 2020
SMS Iklan Yang Bertubi-tubi
September 02, 2020 Dhani
Selasa, 22 Desember 2015
Hari Ibu
Desember 22, 2015 Dhani
Di Kalimantan sendiri khususnya suku Banjar, panggilan "ibu" biasanya adalah "mama" begitu juga aq biasa manggil "mama".
Mumpung
Bertahun-tahun yang lalu ternyata awal dari penyakit beliau. Katanya sih Hepatitis. Kejadiannya sebelum tahun 1996 artinya aku masih SD. Waktu itu badan mama menguning dan sempat dirawat di RS. Ga banyak yang bisa aku ingat karena waktu itu aku masih terlalu
2009 akhir, kejadian lagi sakitnya. Sempat dirawat dirumah hingga di RS. Berobat mulai dari medis hingga tradisional dengan ramuan herbal dan sempat sembuh. Hingga beberapa bulan berikutnya kesehatan mama ngedrop banget. Hanya berselang 1 bulan dan tepatnya 17 April 2010 mama sudah ga bisa bertahan lagi melawan penyakitnya dan wafat di RS Ulin Banjarmasin. Diagnosa akhir adalah sirosis. Menurut http://www.alodokter.com/sirosis
Sirosis adalah kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati. Perkembangan penyakit yang perlahan-lahan mengakibatkan jaringan sehat digantikan oleh jaringan rusak. Dan pada akhirnya, hati tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Jaringan yang rusak akan menghambat aliran darah yang melewati hati. Fungsi hati dalam memproses nutrisi, hormon, obat dan racun yang diproduksi tubuh akan melambat. Produksi protein dan unsur lain yang terjadi di dalam hati juga akan terhambat.Waktu sebelum wafat, badan mama menguning semua bahkan darah dan airmata pun mulai menguning hingga kesadaran menurun. Itu karena bilirubin berlebihan di tubuh yang tidak bisa dinetralkan oleh hati yang sudah rusak.
Kerusakan pada hati yang disebabkan oleh sirosis tidak bisa diperbaiki dan bahkan bisa menyebar lebih luas hingga akhirnya hati tidak bisa berfungsi dengan benar. Kondisi inilah yang sering disebut dengan istilah gagal hati. Sebelum sirosis menyebabkan gagal hati, perkembangannya berlangsung bertahun-tahun. Penanganan yang dilakukan hanya untuk memperlambat perkembangan penyakitnya
Sedihnya, mama belum merasakan punya mantu dan punya cucu tapi setidaknya mama tau aku sudah bekerja dan bisa menata masa depan. Oh ya motor vario yang ada itu merupakan modal mama buat aq berangkat dan pulang kerja PP Kapuas - Pulang Pisau (Waktu itu kantor masih di Pulang Pisau)
Akhir kata, aku ngucapin Selamat Hari Ibu (dan Hari Nenek) karena sebenarnya Ibu itu ga sekedar mengurus dan menjaga anak tapi juga ikut mengurus dan menjaga cucu. Pinjem jargonnya Ripley's Believe it Or Not, Unbelievable? Believe it
Selasa, 17 November 2015
Wifi Dimana
November 17, 2015 Dhani
Jaman smartphone yang serba canggih emang banyak merubah kebiasaan yang mungkin hampir akan merubah budaya.
Seperti kita tau bahwa smartphone tanpa akses internet sekarang ini seperti benda mati -emang benda mati kali ya-. Maksud aq kalo smartphone tanpa akses internet itu rasanya kayak motor tanpa bensin jadinya internet memiliki ruang tersendiri bagi pengguna smartphone. Bagi yang kuota paket internet selulernya banyak sih ga masalah tapi kalo yg terbatas maka bisa dipastikan dia akan buka wifi gadgetnya atau celingukan hanya sekedar mencari gambar atau tulisan wifi dengan username dan passwordnya.
Ada pengalaman saat aq ngantri di sebuah instansi pemerintahan dan disitu memang ada wifi yang digunakan bukan untuk publik jadinya ga ada share password. Ada teman lain yg waktu itu memang buka wifi gadgetnya dan nanya, "Dhan password wifinya tau ga?". Yaelaaaah mana aq tau orang aq ga pernah mikir mau nyantolin gadget di wifi kantor orang.
Sebenarnya apa sih untung-ruginya nyanyol di wifi orang? Yang jelas sih kuota kita ga kepake tapi disisi keamanan sebenarnya agak riskan. Bisa saja admin memasang aplikasi untuk memantau aktifitas jaringan komputetnya shingga apapun aktifitas perangkat yang nyantol bisa diketahui. Dengan begitu kan aktifitas kita menjelajah internet akan ketauan buka url apa, bahkan bisa ketauan kita mengetik apa.
Saran aq sih sebisa mungkin gunakan jaringan seluler sendiri untuk hal-hal penting seperti internet banking, penggunaan kartu kredit/debet, mengirim email penting, dan hal lain yang dirasa perlu untuk dirahasiakan atau untuk transaksi keuangan. Jika terpaksanya harus menggunakan wifi, hindari melakukan aktifitas "penting" yang bisa merugikan karena pembajakan akun keuangan atau email.
Jumat, 02 Oktober 2015
Sabar Dooong!
Oktober 02, 2015 Dhani
Kejadian ini sebenarnya kejadian yang akhirnya dianggap biasa dimana pesawat setelah landing dan proses "mencari parkir" terkadang bisa berhenti mendadak. Biasanya sih kejadiannya di bandara-bandara besar yang mana frekuensi penerbangannya tinggi.
Jadi ceritanya aku naik pesawat bermaskapai Citilink untuk rute BDJ-CGK. Waktu itu pesawat sudah landing di CGK dan sebelum "parkir" pesawat tiba-tiba berhenti. Banyak penumpang yang langsung berdiri untuk mengambil bagasi kabin. Flight Attendance pun "berteriak" melalu mic agar penumpang tetap duduk hinggan pesawat berhenti dengan sempurna di tempatnya.
Aku ga habis pikir terkadang orang seakan ingin cepat-cepat mengemasi barang-barang kabin mereka dan buru-buru keluar dari pesawat. Mungkin ada barang yang berharga di bagasi kabinnya. Eh tapi yang aku lihat "cuma" koper-koper (yang seharusnya dibagasikan karena ukuran yang besar) dan ransel-ransel aja sih. Sementara barang berharga kan biasanya dimasukkan tas kecil dan diletakkan tak jauh dari badan si pemilik.
Begitu mau keluar pun buru-buru aja seakan pesawat bakalan terbang lagi kalo kita telat keluar.
Kira-kira kenapa ya??
Rabu, 16 September 2015
PNS Yang Kena ISPA (Updated)
September 16, 2015 Dhani
A photo posted by M. Ramdhani (@abangdhani) on
Minggu, 06 September 2015
Dipersilahkan Share Tanpa Izin
September 06, 2015 Dhani
Dalam dunia maya, social media nampaknya masih menjadi primadona. Bikin-bikin status galau, bahagia, sedih, bahkan curhat pun bagi sebagian orang dilakukan di sosial media.
Meskipun sifatnya akun pribadi, tidak sedikit yang memberikan informasi-informasi penting dan aktual. Dan bagi sebagian orang, info-info -atau bahkan curhatan seseorang- tersebut dirasa perlu untuk diteruskan dalam bentuk share. Biasanya dimintakan ijin dulu untuk melakukannya.
"Izin share ya mas", "nice info, izin share ya", dan masih banyak lagi kalimat-kalimat sejenis yang intinya meminta izin untuk melakukan share terhadap status/info dari sosial media orang lain. Setelah comment seperti itu, lantas langsung share tanpa menunggu balasan dari yang punya status/info terkait perizinan share. Jadi apakah perlu melakukan izin untuk melakukan share jika tanpa menunggu boleh atau tdknya dari si empunya status/info?
Siilahkan share tulisan ini jika anda merasa perlu share tanpa perlu meminta izin sama aku
Kamis, 03 September 2015
Bijaklah Dalam Mengirim BM
September 03, 2015 Dhani
Sayangnya BM kadang ada yang cuma isinya "tc", "sori test contact" atau apalah. Kebayang ga kalo BBM atau WA jadi media komunikasi penting pasti kita mikirnya ada informasi penting yang masuk padahal cuma isinya gitu doang.
Ada lagi yang BM isinya tentang info yang ga masuk akal. Membalik PIN ATM kalo kita ditodong perampok misalnya. Itu kan ga masuk akal. Kalo PIN 1234 sih bisa dibalik jadi 4321 lah kalo PINnya 1111 gimana cara baliknya? Lagian kalopun bisa manggil polisi, yakinlah duitmu udah ludes duluan baru polisinya dateng (kayak di pelem India)
| Courtesy of http://educatedva.com/ |
Trus ada juga nih yang BM isinya panjaaaaaaang banget. Kalo aku sih males bacanya. Mending singkat dulu aja nanti kalo memang ada yang interest pasti dia bales bertanya kok.
Memang hak masing-masing sih mau BM atau ga tapi hak masing-masing juga untuk bisa dapet BM yang berkualitas. Ga sekedar ikut-ikutan nge-share atau nge-share informasi yang dia juga ga tau kebenarannya seperti apa.
So... gunakan BM untuk share informasi penting, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan kalo dapet BM dari orang lain, pelajari dulu apakah pantas untuk di share kembali atau tidak. Teknologi untuk orang-orang cerdas
Kamis, 27 Agustus 2015
Panggil Saya Haji
Agustus 27, 2015 Dhani
HAJI, sebuah titel yang hanya bisa didapat dengan cara menunaikan ibadah haji ke tanah suci sekarang ini sudah cukup mudah untuk diraih. Alat transportasi yang semakin modern bisa mengantarkan jamaah calon haji menempuh perjalanan lebih dari 7.000 km hanya dengan waktu beberapa belas jam saja. Tabungan-tabungan haji pun sudah diprogramkan baik itu oleh bank konvensional ataupun bank syariah.
Nanti setelah kembali ke Indonesia, secara resmi para jamaah ini akan disebut HAJI atau menyandang titel "H"/"Hj" di depan namanya.
Kalo kita melihat para tokoh Islam di luar negeri -yang tentunya sudah menunaikan ibadah haji-, kita mungkin tidak akan pernah menemui nama mereka menggunakan H atau Hj. Nampaknya penggunaan H/Hj hanya terjadi di Indonesia.
Dari beberapa literatur yang aku baca, singkatnya ternyata ini adalah propaganda para penjajah Indonesia dulu. Hal itu terjadi karena setiap orang yang menunaikan haji, maka ia akan menjadi pemberontak bagi penjajah sehingga perlu memberi identitas bagi orang yang sudah "naik" haji. Karena itulah jaman penjajahan dulu kalo ada yang menunaikan haji akan disematkan H atau sebutan HAJI di namanya agar mudah mengawasi gerak-gerik orang tersebut yang disinyalir akan melakukan pemberontakan.
Ternyata setelah bertahun-tahun, penyematan H/Hj menjadi suatu budaya di Indonesia. Jika sudah menunaikan rukun Islam ke-5 ini maka akan disebut HAJI. Bukan untuk menandai orang yang mungkin bisa saja memberontak tetapi untuk menghormatinya.
Menurut beberapa literatur lagi, haji yang benar-benar haji atau istilah syar'i-nya adalah Haji Mabrur adalah tidak sekedar menunaikan ibadah haji. Namun juga mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah menunaikan ibadah tersebut. Ibadah hariannya menjadi semakin baik, hubungan dengan manusianya pun semakin baik. Jadi haji bukan sekedar berkopiah putih atau menyandang huruf H/Hj di depan nama tapi lebih ke arah sifat dan sikap yang menjadi lebih baik meskipun dengan menambahkan titel tersebut juga bukan merupakan kesalahan
Minggu, 23 Agustus 2015
Ada Apa Dengan Cinta
Agustus 23, 2015 Dhani
Kalo kita perjalanan dari Kuala Kapuas ke Palangka Raya, akan melewati yang namanya Jembatan Tumbang Nusa -nama aslinya aku ga tau, cuma orang suka menyebut seperti itu-. Jembatan ini dibangun awalnya sepanjang 7 km dan ditambah 3 km lagi. Konstruksinya seperti jalan fly over. Jembatan ini dibangun karena jalan awal (posisi ada di bawah jembatan) kalo musim air pasang pasti tergenang bahkan mobil pun ga bisa melintasi. Nah tau kan kalo udah kayak gitu, konstruksi tanah bakalan rusak dan aspal pun akan mengelupas. Maklum saja posisi daerah yang disebut Tumbang Nusa ini memang dataran rendah.
Jembatan ini menjadi jalan akses utama jika ingin ke Palangka Raya dari Banjarmasin, Kuala Kapuas, atau Pulang Pisau jadi penggunanya sangatlah banyak dan pastinya bisa dibilang sebagai prasarana umum.
Sayangnya beberapa anak muda atau mungkin juga sdh ada yang tua sengaja mencoret-coret dinding dari jembatan ini. Ada yang sekedar menuliskan nama, menuliskan nama geng nya, atau menuliskan nama dia dan pasangannya.
Oke dgn tidak menganggap hal lain itu tdk penting, mari kita bahasa tentang coretan nama berpasangan.
Mungkin dua sejoli ini ingin mematrikan namanya di jembatan atau agar diketahui orang lain tentang hubungannya. Bisa jadi biar orang lain ga ngerebut kekasihnya atau mungkin menunjukkan eksistensi hubungannya kepada orang tua yang tidak merestui.
Apapun alasan mereka, corat-coret seperti ini akan merusak keindahan. Harusnya si cowok gentlemen dong. Lamar ceweknya dan coretkan nama kalian berpasangan di undangan pernikahan. Kan bisa lengkap cantumin nama orang tua juga. Trus jangan lupa nama M. Ramdhani Sekeluarga di daftar undangannya ya
**
Berbicara masalah hubungan sejoli, di sini ada yang namanya JUJURAN. Jujuran ini diberikan pihak cowok ke cewek sebagai bukti cintanya saat melamar untuk dinikahi. Celakanya besarnya jujuran inilah yang sering menghambat cowok untuk berani melakukan lamaran. Biasanya semakin tinggi pendidikan si cewek atau semakin sukses orangtua si cewek maka akan semakin besar jujurannya.
Bahkan ada orang tua yang malu kalo jujuran anaknya kecil. Malu karena bisa diomongin orang lain. Misalnya, "eh si Aluh tu jujurannya 10juta aja maka sugih lalakiannya kada dimintai jujuran yang banyak". "Napa sedikitnya minta jujuran? Anak kam tu bungas, pintar. Larangi pang lagi". Nah nanti uang jujuran itu akan di"pamerkan" pada saat acara BEANTARAN. Disitulah letak gengsinya para orang tua.
Ada sebuah rahasia umum yang sulit dibuktikan, konon besarnya jujuran itu cuma sebatas di mulut, sebatas omongan biar ga malu dan jatuh gengsinya. "Berapa jujurannya?", "100 juta jar!". Padahal sebenarnya ga sebesar itu.
Inilah budaya, terlepas dari baik atau tidaknya hal tersebut
Kamis, 20 Agustus 2015
Jodohku Ada di "Dekat"ku PART. 2
Agustus 20, 2015 Dhani
Yak pake huruf kapital biar jelas.... Dia kan pacaran sama teman kuliahnya katanya sih orang Palembang tapi sudah stay di Malang. Pas ditinggal mudik eh malah putus cinta. Wkk paling-paling jodohmu nanti "Alus" tetangga sebelah ding!
***
Oke sekarang masuk ke cerita inti. Istriku ini adalah tetanggaku. Rumahnya ga jauh dari rumahku. Paling-paling 500 meteran lah. Sebenarmya istriku ini jarang ada di lingkungan rumahnya karena dari kecil sudah disuruh sekolah di luar kota hingga akhirnya kembali lagi setelah lulus kuliah dan menjadi PNS. Itu aja ya ceritanya. Dikit aja biar penasaran
Rabu, 12 Agustus 2015
Mengganti TagLine
Agustus 12, 2015 Dhani
"Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya", sebait perkataan seorang khalifah bernama Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan sepupu Rasulullah sekaligus menantu Rasulullah. Penting dengan menuliskan ilmu, mungkin tingkatannya sepenting ayat Al-Quran yang pertama kali turun yaitu "IQRO (Bacalah)".
Dengan menuliskan ilmu, kita bisa membagi ilmu kita kepada orang lain. Bukankah membagi/mengajarkan ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal jariyah yang pahalanya ga akan putus hingga akhir kiamat? dan hebatnya yang namanya ilmu itu kalo dibagi bukannya semakin berkurang tapi malah semakin kita mengingatnya -dosenku dulu bilang begitu-
Tanpa maksud untuk menolak perkataan Khalifah Ali bin Abi Thalib, akhirnya setelah mikir-mikir tagline yang tepat, maka tagline baru blog ku ini adalah "Apa yang ditulis akan menjadi pengingat dimasa akan datang". Sifatnya umum, baik itu ilmu ataupun cerita-cerita yang mungkin bagi orang lain sih ga penting tapi bagiku -yang daya ingatnya ga terlalu bagus- ada perlunya dituliskan agar bisa menjadi pelajaran ataupun sebagai pengingat dimasa akan datang.
Semoga nantinya bisa bermanfaat setidaknya untuk anak cucu ku agar mereka tau kehidupan abah/kakeknya dimasa lampau.
Senin, 10 Agustus 2015
Ngantri Se-antri-nya
Agustus 10, 2015 Dhani
Pagi ini kembali mau masukin SPM ke KPPN Palangkaraya. Seperti biasa mekanisme antrian diberlakukan. Siapa yg ngambil nomor antrian terlebih dahulu, dialah yang akan dilayani duluan.
Sampe KPPN jam stgh 9 lewat dikit dan dapat nomor antrian dgn jumlah antrian 33 orang. Oke lah ga masalah karena ga dateng pagi2 itulah konsekuensinya.
Sekarang yg jd masalah adalah setelah 1 jam mengantri, nomor antrian baru bergerak sebanyak 4 nomor. Wealaaah mau sampe jam berapa antrinya? Kursi petugas penerima SPM yang tersedia 4 buah hanya terisi 2 buah -jam menunjukkan 09.27- nah loh kemana 2 nya? Mungkin cuti atau ada kesibukan lain. Tapi masa ga ada petugas pengganti sih? Atau petugas tambahan lah mengingat antrian kan banyak
Mikir sih tinggalin aja dulu daripada nunggu tapi kalo kelewat disuruh ambil nomor antrian baru, kalo ditunggu juga ga bisa dipastikan jam berapa. Asli udah kayak ngantri reviu RKAKL aja nih
Minggu, 09 Agustus 2015
Jodohku Ada Di "Dekat"ku PART. 1
Agustus 09, 2015 Dhani
Ada yang menikah dengan teman sekolah, teman kuliah, teman di tempat kerja, teman sepermainan, anak teman ortu, dan sejenisnya.
Meskipun ada yang tidak termasuk dalam kategori di atas namun jumlahnya tidak sebanyak yang masuk kategori "dekat" itu.
Sebagai contoh, abah dan mamaku adalah dulunya teman sekolah, mertuaku dulunya satu kampus, kakak iparku dulunya satu kampus juga, Aku? Panjang ceritanya. Semoga masih mau baca ya...
***
Kalo aku cerita tentang jodohku, kayaknya biar afdol aku ceritanya dari awal mengenal pacaran. Pacar pertamaku adalah teman satu kampus -culun banget baru kenal pacaran saat kuliah padahal banyak yang baru-baru lulus SMP belum lulus udah hamil diluar nikah-.
Dia bisa dibilang primadona kampus lah. Orangnya asik buat ngobrol. Hubungan pacaran cuma 3 bulan habis itu putus baik-baik -ga pengen bilang kalo diputusin hiks-
*Note: masuk dalam kategori dekat yaitu teman kampus namun ternyata bukan jodoh buat menikah
***
Next. Orang kedua yang bisa dibilang pacar. Dimulai dengan hobi yang sama yang saat itu lagi booming yaitu chatting dgn YM -eh ini bukan acara tausiah asuhan salah satu ustad idolaku-.
Terjadilah hubungan pacaran selama lebih dari 3 tahun dan putus. Kali ini jujur deh kalo yang mutusin aku -suer beneran go boong- namun putusnya ga baik-baik.
*Note: masuk dalam kategori dekat yaitu punya hobi yang sama dan juga bukan jodoh buat menikah
***
Selanjutnya aku akan cerita tentang wanita yang jadi jodoh untuk menikah. -ah cemen mantannya cuma 2- ga apa2 daripada banyak tapi dputusin mulu haha... nah untuk cerita selanjutnya dilanjut di posting berikutnya aja yaaa.... -makanya pake embel2 PART1 di judulnya hehe-
Jumat, 07 Agustus 2015
Disitu Saya Kadang Sedih
Agustus 07, 2015 Dhani
Masih ingat ungkapan seperti judul tulisan ini? Ya beberapa waktu yang lalu ungkapan itu menjadi tren di dunia maya. Bahkan banyak yang bikin meme nya.
Awalnya ungkapan itu disampaikan oleh seorang polisi wanita (polwan) yang sedih karena harus sering meninggalkan anak-anaknya untuk bertugas. Hal itu disampaikan di program acara "86" di NetTV.
Nah tadi pagi aku baru mikir dan merasa sedih juga karena harus menitipkan anak di Tempat Pengasuhan Anak (TPA) karena aku dan istri bekerja kantoran yang jam masuk dan pulangnya sudah diatur.
Sebenarnya Husna ga sekedar dititipin aja sih. Pagi dia masuk PAUD. Nah setelah PAUD baru ke TPA di tempat yang sama.
Sisi positifnya adalah mengajarkan anak untuk berinteraksi dengan orang lain selain babah dan mamanya maklum Husna kan anak pertama jadi teman sehari-harinya ya babah dan mamanya.
Sedikit cerita saat aku mengantar anak tadi pagi, kebetulan sampe sekolahnya barengan sama teman Husna yg lain yaitu Tea. Nah teman2nya yg sudah datang -kebetulan cowok2- neriakin, "Husna dataaang!! Tea dataaaang!!". Sampe2 Bunda (guru) nya bilang, "iih ni anak2 cowok masih kecil udah manggil2in cewek". Hahaha entah apa yang ada di dalam pikiran polos anak-anak ini
Rabu, 22 April 2015
Keamanan Adalah Yang Utama
April 22, 2015 Unknown
Kamis, 13 Juni 2013
BBM Naik. Perlukah?
Juni 13, 2013 Unknown
Ini sih pemikiran aku aja ya. Dari artikel yang telah aku baca bbrapa waktu lalu, dulu subsidi BBM diberlakukan awalnya pada jaman Presiden Pertama RI (Ir. Soekarno). Maksud dari pensubsidian itu agar rakyat menikmati hasil tambang minyak bumi yang kala itu sangat surplus.
Seiring berjalannya waktu, tingkat ekonomi rakyat semakin meningkat. Populasi kendaraan bermotor semakin banyak namun hasil minyak bumi semakin menipis. Yang surplus pun mengarah ke defisit. Kendaraan bermotor ternyata semakin mewah namun banyak dimiliki oleh orang-orang kaya. Subsidi BBM yg katanya untuk masyarakat kurang mampu menjadi tidak tepat sasaran.
Nah sekarang ada wacana kenaikan BBM dari Rp. 4.500/liter menjadi Rp. 6.500/liter. Menurutku itu ga akan bermasalah buat rakyat kelas menengah ke bawah. Toh mereka sdh terbiasa beli premium eceran yang kalo di kota Palangka Raya ini harga berkisar Rp. 5.500 - Rp.6.000 per botol yang takarannya tidak sampai 1 liter.
Selain itu aksi pelansir pun tak bisa dikendalikan. Harusnya sih para pelangsir dibatasi dalam pembelian BBM bersubsidi khususnya premium



