Catatan Kecil Kehidupan Pribadi Sehari-hari Seorang Suami, Ayah, dan ASN

Disclaimer

Blog ini merupakan pindahan dari blog www.abangdhani.net, jadi apabila ada embel-embel atau kalimat yang berhubungan dengan URL/alamat tersebut maka itu merupakan postingan lama yang tidak di-edit

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Desember 2021

Katarak Husna (Bagian 2)


Ini adalah tulisan sambungan dari Katarak Husna (Bagian 1) harapannya tulisan ini ga banyak bagiannya.



Selasa, 30 November 2021 saatnya Husna kontrol kedua pasca operasi kataraknya. Berharap hasil operasinya makin bagus.

Kontrol ke dokter di klinik mata. Setelah mendaftar, seperti biasa masuk antrian untuk bertemu dokternya. Sebelum bertemu dokter, Husna dicek dulu penglihatannya dengan kacamata test yang bisa diganti-ganti lensanya. Setelah itu baru bertemu dengan dokter.

Setelah diperiksa lagi sama dokternya, hasil operasinya bagus namun karena mata kataraknya sudah lama sehingga mata Husna ada masalah yang dinamakan "mata malas" atau amblyopia. Itu disebabkan karena matanya memang tidak optimal digunakan saat bertahun-dengan dengan katarak sehingga ada yang namanya gangguan refraksi. Namun dokter masih penasaran apakah penglihatan Husna masih bisa dibantu dengan kacamata. Akhirnya dokter meminta untuk periksa lagi tekanan bola mata dan tingkat keburaman matanya.

Hasil dari pemeriksaan diserahkan lagi ke dokter dan menurut analisa dokter, kacamata tidak akan membantu banyak terhadap penglihatan Husna. Namun dokter masih optimis karena masih belum sampai 2 pekan pasca operasi. Dijadwalkan lagi Husna akan kontrol 1 bulan lagi yaitu tepatnya 29 Desember 2021. Nanti akan dilihat perkembangan penglihatannya. Harapannya sih penglihatannya masih bisa dikoreksi walaupun dengan kacamata namun jika tidak bisa juga, LASIK menjadi alternatifnya.

Minggu, 28 November 2021

Katarak Husna (Bagian 1)


Kurang lebih 1 pekan yang lalu tepatnya Sabtu, 20 November 2021, Husna (9 tahun) anak kami satu-satunya menjalani operasi mata dengan diagnosa katarak. Teman-teman banyak yang bertanya penyebabnya dan gimana kok bisa ketahuan? Aku ceritain eh besoknya teman yang lain tanya lagi. Daripada bolak-balik cerita mending aku tulis aja jadi kalo ada yang tanya lagi, suruh baca sendiri aja hehe....

Gambar ilustrasi, diambil dari situs pixabay.com

Awal Tau Ada "Sesuatu" di Mata Husna

Pertengahan tahun 2020, aku terinfeksi COVID-19 (baca juga: Cerita Seorang Penyintas COVID-19). Beberapa bulan setelah sembuh, aku merasa pandangan makin kabur dan periksa mata di optik. Waktu itu iseng aja nyuruh Husna untuk periksa juga, namanya gratis ya lumayan lah kalo emang matanya minus biar bisa dikoreksi dengan kacamata sebelum tambah parah, pikirku dulu begitu.

Namun setelah diperiksa ternyata mata kanannya ga bisa dibaca sama alat periksa mata itu. Beberapa kali dicoba namun tetap ga bisa. Saat disuruh tutup mata kiri, Husna ga bisa baca Kartu Snellen dan bilangnya ga bisa lihat. Disarankan sama petugas optiknya untuk konsultasi ke dokter mata namun karena Husna ga ada keluhan jadi kami sedikit mengabaikannya.

Setahun kemudian, barulah kami memeriksakan mata Husna. Ga tau kenapa seakan tergerak aja hati untuk periksa. Proses rujukan BPJS pun kami minta dari dokter keluarga dan minta rujukan ke klinik mata dekat rumah.

Pertama kali periksa, Husna sudah dipastikan dokter bahwa matanya katarak. Hasil anamnesa dokter menyimpulkan bahwa kataraknya bawaan lahir atau disebut katarak kongenital.

Saran Dokter Spesialis Mata

Klinik mata tempat Husna periksa digawangi oleh dokter spesialis mata. Nah karena diagnosanya katarak maka tidak ada jalan lain harus dilakukan operasi. Namun dokter masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan katarak hanya pada lensa atau kena pembuluh darahnya. Jika hanya katarak pada lensa bisa dilakukan operasi biasa namun jika kena pembuluh darah maka operasi harus dilakukan di RS yang lebih besar yang ada di Pulau Jawa.

Periksa Lanjutan dan Keputusan Operasi

Pada hari yang sama disaat periksa di klinik, dilakukan pemeriksaan lanjutan. Diantaranya adalah periksa tekanan bola mata dan USG untuk melihat posisi kataraknya.

Alhamdulillah posisi katarak hanya pada lensa namun tekanan bola matanya cukup tinggi melebihi tekanan normal sehingga dokter memerikan terapi tetes mata untuk menormalkan tekanan bola mata dan disuruh kontrol satu pekan lagi sekalian meminta keputusan mau operasi atau tidak.

Dokter juga sudah menjelaskan efeknya apa saja jika dilakukan penundaan operasi yaitu matanya mungkin akan menjadi mata malas dan tidak berkembang berhubung usia Husna masih masa pertumbuhan.

Setelah satu pekan, tekanan bola mata menjadi normal dan memang dari awal kami pun menyetujui jika dilakukan tindakan operasi karena kami tidak ingin menunda dan berefek buruk bagi perkembangan Husna.

Namun, operasi katarak yang sedianya cukup diberikan anastesi lokal ternyata tidak bisa diterapkan pada usia anak berhubung anak mungkin nanti bisa berontak jadi harus dilakukan anastesi total atau "ditidurkan" dan harus dilakukan di Rumah Sakit sehingga akan dirujuk lagi. Kami pun meng-iya-kan saja

Periksa di Rumah Sakit dan Penjadwalan Operasi

Berhubung Husna harus anastesi total alias bius total maka mau tidak mau harus cek kesiapan fisiknya. Jadi Husna harus menjalani beberapa pemeriksaan yaitu periksa darah, rontgen, dan dikonsultasikan ke dokter anak.

Alhamdulillah hasil pemeriksaan baik dan dijadwalkan untuk operasi pada Sabtu malam tanggal 20 November 2021 pukul 20.00

Opname di Rumah Sakit dan Proses Operasi

Jadwal operasi sabtu malam, kami kirain masuk RS nya sabtu pagi ternyata ga hehe.... sehari sebelumnya pagi-pagi aku ditelpon oleh pihak RS untuk ketemu dokter mata lagi. Akhirnya pagi itu juga ketemu dokter mata dan disuruh langsung masuk ruangan rawat inap.

Mengisi waktu luang dengan membaca komik

Menjelang siang, Husna dapat ruang perawatan dan kami bingung mau ngapain. Toh Husna juga ga sakit, kondisi fisiknya bagus. Akhirnya setelah tanya perawatnya untuk ijin keluar cari makan siang dan pulang untuk bawa bekal selama di RS dan diperbolehkan asal sudah kembali maksimal pukul 17.00. Langsung cari makan siang dan pulang untuk persiapan.

Pukul 17.00 kami sudah kembali ke ruang perawatan. Tentu saja masih dengan ke-gabut-an bingung mau ngapain. Dokter pun ga ada visite, yang ada hanya petugas yang mengantarkan makan. Ya sudah kami bertahan aja lah daripada bolak-balik ke rumah. Akhirnya kami nginap aja deh....

Sabtu pagi, perawat datang dan mau pasang infus. Dasarnya Husna memang secara fisik ga ada keluhan maka kami minta izin untuk dipasang nanti saja biar si anak bisa bergerak bebas. Perawatnya setuju dan direncanakan akan dipasang siang saja saat Husna mulai puasa pada pukul 12.00

Siangnya kami tunggu perawat ga ada yang datang ke ruang perawatan. Kami inisiatif untuk bertanya pada perawat terus dijawab, dipasang nanti aja yang penting anaknya puasa. Ya udah syukur deh si anak masih bisa aktif tanpa gangguan.

Sekitar pukul 17.00 perawat pun datang untuk masang infus. Cuss.. sekali tusuk langsung aman. Alhamdulillah.

Sekitar pukul 20.00 beberapa dokter muda masuk ke ruangan mengecek kesiapan dan menyampaikan akan segera dilaksanakan operasi dan Husna giliran kedua karena sebelumnya akan dilakukan operasi katarak juga.

Shalat duduk


Tak lama kemudian perawat datang dan membawa Husna ke ruang operasi. Di depan ruang operasi Husna dipersiapkan sekali lagi dan disuntikkan obat bius. Setelah itu dibawa ke ruang operasi.

Persiapan di depan ruang operasi


Kurang lebih setengah jam kemudian, dokter mata keluar dari ruang operasi dan menemui kami serta menyampaikan bahwa operasi telah selesai dan akan melakukan visite pada hari senin

Sebelum operasi dibikin happy aja walaupun sebenarnya tegang


Ya udah pada hari minggunya kami mengusahakan untuk istirahat saja walaupun tetap di RS

Pulang Dari Rumah Sakit

Senin, 22 November 2021 pagi-pagi dokter matanya visite ke ruangan dan perawat yang disuruh membuka perbannya serta mencoba cek penglihatan. Dokter mengatakan bagus dan hari itu juga boleh pulang. Namun malamnya diminta kontrol ke klinik mata lagi untuk ketemu sama dokter mata disana


Kontrol Pertama Pasca Operasi

Senin malam itu juga kami kontrol ke klinik mata dan dokter menyatakan hasilnya bagus, lukanya tertutup bagus, syaraf-syarafnya normal, tekanan bola mata juga bagus, masih ada gelembung udara yang memang sengaja dimasukkan dan nanti akan hilang dengan sendirinya. Disarankan untuk kontrol lagi pada hari Selasa, 30 November 2021 dan diingatkan untuk memberikan tetes mata yang sudah diresepkan dokter serta menghindari menunduk, mengangkat beban berat, bersin dan batuk terlalu kuat, ngeden, dan melatih mata yang dioperasi dengan menutup mata sebelahnya yang normal

Terus bagaimana kelanjutannya? Nanti akan aku tuliskan pada bagian kedua tulisan ini ya.... Sampai jumpaaa...


Jumat, 05 Maret 2021

Dua Belas Jam Pasca Vaksinasi COVID Pertama


Hari ini, Jum'at, 5 Maret 2021 setelah beberapa waktu yang lalu penyintas menjadi pengecualian untuk divaksin saat skrining kini dibolehkan jika telah sembuh minimal 3 bulan

Meskipun penyintas dianggap punya antibodi namun katanya dengan vaksin akan menjadi booster antibodi tersebut agar lebih kuat. Wallahu a'lam

Sebenarnya dalam hati sih ga kepengen divaksin karena hasil rapid antibodi terakhir masih ada IgG-nya tapi nanti kayaknya ujung-ujungnya juga bakal vaksin ya udah nanti atau sekarang kan menurutku ga akan jauh beda

Apa yang aku rasakan setelah vaksin? Hmmm mungkin ga 100% karena vaksin ya tapi ini yang aku rasakan
  1. 30 menit pertama saat pemantauan KIPI tidak terjadi apa-apa
  2. Mengantuk (mungkin masih ada efek kecapekan karena malamnya baru datang dari Dinas Luar)
  3. Pegal dibagian yg disuntik vaksin. Rasanya seperti habis kena tonjok lembut di lengan
Next aku akan cerita lagi saat vaksin kedua kurang lebih 2 minggu lagi

Terima kasih untuk keluarga, teman² penyintas, pandemi COVID, dan tim vaksinasi, serta pihak² yang tidak sanggup disebutkan disini karena saking banyaknya. Tanpa mereka cerita ini tidak akan ada

Kamis, 24 Desember 2020

Swab Rapid Antigen Bagi Penyintas COVID-19


Tulisan ini bisa dianggap lanjutan dari tulisan sebelumnya yaitu http://dhani.lembarbuku.com/2020/12/adiknya-una.html

Aslinya pada saat keguguran, istri langsung aku bawa ke IGD RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya. Sesuai prosedur, maka dilakukan rapid test menggunakan rapid test antibodi dan menunjukkan hasil reaktif IgG. Ga kaget sih karena memang istri seperti terpapar saat aku positif Covid-19 sekitar setengah tahun yang lalu.

Karena hasil reaktif itu pihak RS tidak berani memberikan tindakan apa-apa termasuk tindakan kuretase. Alasannya ya itu tadi karena hasil rapid test reaktif (meskipun IgG) dan disarankan untuk swab PCR agar meyakinkan untuk keselamatan bersama.

Beberapa hari kemudian kontrol ke dokter dan diberi obat agar sisa kehamilan luruh dengan sendirinya. Setelah obat habis maka kontrol lagi dan ternyata masih ada sisa kehamilan. Akhirnya dokter memberi rujukan ke RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya dengan diagnosa abortus incomplete.

Berhubung kami tau jika masuk IGD lagi akan dilakukan rapid test yang hasilnya pun kemungkinan akan reaktif maka kami berinisiatif untuk melakukan rapid test jenis antigen. Namun sayangnya saat itu RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya pada saat itu belum ada layanan tersebut.

Kebetulan sedang heboh-hebohnya rapid test antigen untuk perjalanan dari dan keluar jawa menjelang libur panjang natal dan tahun baru juga. Akhirnya aku mendapat info dibeberapa tempat yang bisa melayani test tersebut dengan biaya yang berbeda-beda yaitu:
Pertama, Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (Labkeskal) Propinsi Kalteng dengan biaya Rp. 100.000. Kami tidak memilih layanan ini karena kata beberapa orang antriannya sangat banyak (ini perlu dikonfirmasi lagi sih ke sana benar atau ga infonya)
Kedua, layanan di bandara dengan biaya Rp. 200.000. Kami memilih layanan ini namun gagal. Ternyata untuk melakukan test ini di bandara harus menunjukkan tiket dulu berhubung jumlah alat yang terbatas
Ketiga, RS Siloam Palangka Raya dengan biaya Rp. 249.000. Kami coba ke RS ini. Meskipun peminatnya banyak (dan terlihat dari pakaian dan bawa-bawa koper mayoritas adalah calon penumpang pesawat) namun mereka dapat melayani. Akhirnya dilakukanlah swab untuk rapid test antigen dan alhamdulillah hasilnya negatif.

Bagi penyintas COVID-19, rapid test antibodi yang hasilnya cenderung reaktif akan sangat menyulitkan. Meskipun katanya hanya untuk skrining dan tidak bisa menggambarkan seseorang beneran positif COVID atau ga, tapi kenyataannya ga begitu. Banyak proses administrasi yang mengharusnya rapid test non-reaktif atau negatif. Karena rapid test antibodi cenderung akan bernilai reaktif bagi penyintas COVID, jadi ada baiknya jika diperlukan hasil rapid test langsung melakukan rapid test antigen saja

Sabtu, 15 Agustus 2020

Test Antibodi Dengan Rapid Test COVID-19


"Virusnya ada di pernafasan kenapa yang diambil untuk rapid test itu darah ya?", -Amang "I", penjual sayur di Pasar Besar.

Contoh RT Reaktif IgG

Banyak dari masyarakat awam belum memahami tentang Rapid Test COVID-19 (selanjutnya kita sebut RT ya) ini. Salah satunya adalah Amang (Paman) "I". Beliau bingung kenapa yang dicek adalah darah sedangkan virusnya ada di pernafasan.

RT Mendeteksi Antibodi

Sebenarnya RT fungsinya untuk mendeteksi antibodi yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh. Tentara alami tubuh ini akan timbul saat seseorang terinfeksi suatu virus penyakit. Letak antibodi ini ada dalam darah oleh karena itu yang diambil adalah sampel darahnya.

RT memberikan hasil reaktif atau non-reaktif. Jika antibodi telah terbentuk maka hasilnya akan reaktif, tapi jika belum maka hasilnya negatif.

Dalam banyak kasus, hasil RT non-reaktif tapi saat dilakukan Swab Test PCR hasilnya positif. Kok bisa gitu ya? Itu dikarenakan tubuh membutuhkan waktu beberapa hari untuk menghasilnya antibodi penyerang virus tersebut. Saat dilakukan RT sebenarnya virusnya sudah menginfeksi namun antibodi belum ada sehingga hasilnya non-reaktif. Karenanya jika hasil RT non-reaktif maka dianjurkan untuk melakukan RT ulang 7-10 hari kemudian untuk memberikan waktu tubuh memproduksi antibodi kalau-kalau seseorang terinfeksi virus

Alat RT untuk COVID-19 ini pada umumnya ada 2 jenis. Jenis yang pertama adalah yang mendeteksi IgG dan IgM dan jenis kedua adalah kombinasi dari keduanya.

Untuk RT jenis pertama beberapa kemungkinan hasilnya adalah:
  1. Non-reaktif
  2. Reaktif IgM, reaktif IgG
  3. Non-reaktif IgM, reaktif IgG
  4. Reaktif IgM, non-reaktif IgG

Sedangkan RT jenis kedua hanya memunculkan hasil reaktif atau non-reaktif

Antibodi IgM (Immunoglobin M)

Biar ga salah, aku copy-kan dari internet aja ya hehe
Tubuh akan membuat antibodi IgM saat Anda pertama kali terinfeksi bakteri atau virus sebagai bentuk pertahanan pertama tubuh untuk melawan infeksi. Kadar IgM akan meningkat dalam waktu singkat saat terjadi infeksi, kemudian perlahan menurun dan digantikan oleh antibodi IgG. Oleh sebab itu, hasil pemeriksaan IgM dengan nilai yang tinggi, sering kali dianggap sebagai tanda adanya infeksi yang masih aktif (https://www.alodokter.com/memahami-jenis-dan-fungsi-tes-antibodi)

Antibodi IgG (Immunoglobin G)

Antibodi IgG adalah jenis antibodi yang paling banyak ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya. Ketika antigen seperti kuman, virus, atau zat kimia tertentu masuk ke dalam tubuh, sel-sel darah putih akan "mengingat" antigen tersebut. Dengan demikian, jika antigen tersebut kembali masuk ke dalam tubuh atau menyerang tubuh Anda, sistem kekebalan tubuh akan mudah mengenalinya dan melakukan perlawanan karena antibodi sudah terbentuk lebih dulu (https://www.alodokter.com/memahami-jenis-dan-fungsi-tes-antibodi)

Namun sekarang ini pemerintah sudah tidak merekomendasikan lagi RT ini untuk diagnosa dan hanya digunakan untuk melakukan skrining saja. Mungkin karena RT ini tingkat kesalahannya tinggi dan tidak bisa mendeteksi di awal-awal seseorang yang terinfeksi. Rekomendasi pemerintah untuk penegakan diagnosa COVID-19 tetap dengan menggunakan PCR Test yang sampelnya adalah cairan di dalam hidung dan tenggorokan.

Apakah ada pembaca yang punya pengalaman terkait RT atau PCR Test ini? Yuk ceritakan di kolom komentar

Rabu, 05 Agustus 2020

Cerita Seorang Penyintas COVID-19


Gambar dari internet

Sebuah cerita menarik dari seorang penyintas (pasien yang sudah sembuh) dari COVID-19 menceritakan dengan singkat mengenai kisahnya terpapar, menjalani karantina, hingga dinyakatan sehat dari penyakit yang menjadi pandemi dunia ini. Yuk disimak semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Tuturan cerita akan aku format huruf miring atau italic ya biar enak bacanya.
=================================

Kamis, 25 Juni 2020

Hari ke-6 berada di tempat karantina di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kalteng.. Mengisi hari-hari penantian pemulihan dimasa karantina karena aku positif COVID-19.

Pertama-tama cerita dulu ya kenapa bisa teridentifikasi positif COVID-19. Berawal dari ada teman sekantor yang sakit dan periksa ke RS dan dinyatakan PDP ringan dengan gejala badan lemas dan kelelahan. Ada juga teman yang lain yang juga mengalami gejala yang sama. Akhirnya pihak kantor melakukan rapid test COVID-19. Hasilnya? ada yang reaktif. Hasilku waktu itu NON-REAKTIF. Rapid test di kantor dilaksanakan hari rabu tanggal 10 Juni 2020

Kecurigaanku terhadap kondisi sendiri dimulai ketika teman yang reaktif (ada juga yang non-reaktif sih) menunjukkan hasil Swab PCR positif. Aku mulai tanya-tanya bagaimana gejalanya, kondisinya bagaimana. Berhubung aku beberapa hari sebelum rapid test merasa ga enak badan. Dan ternyata gejalanya banyak yang sama yang aku rasakan juga.

Beberapa keluhan yang ada adalah lemas seperti kelelahan, meriang, suhu tubuh sih masih < 37,5 derajat celcius. Tapi yang paling dirasakan adalah hilangnya penciuman dan rasa untuk beberapa hari.

Akhirnya aku "ngaku" di kantor punya gejala yang sama dan ngikutin SOP untuk di Swab PCR. Alasan mengaku adalah karena khawatir positif dan secara tidak sengaja menularkan kepada orang lain khususnya keluarga di rumah. Alhasil, hasilnya memang positif dan harus dikarantina (meskipun waktu itu gejalanya sudah pada hilang). Swab pertamaku hari kamis tanggal 18 Juni 2020 dan malamnya sudah dikabari hasilnya.

Akhirnya harus mulai menjalani masa karantina. Pertama masuk hari Jum'at tanggal 19 Juni 2020. Tidak ada gejala/keluhan berarti di masa karantina ini. Beberapa hari pertama mulai menyesuaikan diri dengan makanan porsi besar (karena kata nutrisionis nya dilakukan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein yang bisa menaikkan imunitas tubuh) ditambah beberapa obat-obatan sebagai terapi

Mulai berkenalan dengan orang-orang senasib yang sudah duluan di karantina. Saling menyemangati, berolahraga bersama, bercanda bersama di grup WA. Ya semua disini terlihat sehat, hanya sekedar urusan negatif atau positif-nya saja

Kondisi karantina cukup nyaman. Dapat kamar sendiri, dikasih makan 3x sehari, snack 2x sehari, diperiksa tensi darah, saturasi oksigen, dan suhu tubuh 3x sehari. Kamar pun ada yang membersihkan setiap harinya. Pokoknya kasarnya cuma makan dan tidur aja. Mau di kamar seharian atau mau keluar kamar sambil berinteraksi atau berolahraga di halaman juga tinggal pilih karena sejatinya memang yang "dirawat" disini lagi-lagi dalam kondisi baik dan terlihat sehat. Mandiri dalam beraktifitas.

Disini aku bersama 4 orang teman kantor lainnya yang sudah duluan dikarantina beberapa hari sebelumnya dan banyak orang-orang lain dengan berbagai macam profesi dan tingkat pendidikan

Sabtu, 27 Juni 2020

Alhamdulillah kemaren dan hari ini 4 orang teman kantor yang sudah duluan masuk karantina di-swab. Semoga hasilnya menggembirakan dan bisa cepat selesai karantinanya sehingga bisa kumpul bersama keluarga lagi

Selasa, 30 Juni 2020

Tadi malam salah satu teman yang sdh di swab ulang pulang. Bisa lulus dari karantina ini. Dan pagi ini aku baru diberitahu oleh perawat yang melakukan pemeriksaan tiap pagi kalo aku ada jadwal swab hari ini (swab ke-2). Aku juga bareng sama tmn yang sdh swab kemaren. Nampaknya dia hasilnya negatif dan akan dkonfirmasi dengan swab selanjutnya. Harapan kami sih tentu saja hasilnya (-)

Di lain tempat, ada teman kantor yang hasil rapidnya reaktif dan hari ini swab juga di RS Doris Sylvanus Palangka Raya.

Rabu, 1 Juli 2020

Hari ini dapat 2 kabar. 1 kabar baik dan 1 lagi kabar buruk. Kabar baiknya adalah ada lagi kawan yang bisa lulus dari karantina ini namun kabar buruknya adalah ada 2 orang lagi kawan kantor yang dikonfirmasi positif covid-19 dan masuk BPSDM Kalteng juga untuk karantina

Kamis, 2 Juli 2020

Tepat 2 minggu yang lalu aku menjalani tes swab pertama yang hasilnya positif. Hari ini aku di swab lagi untuk yang ketiga kalinya. Hasil swab kedua sih tidak diinfokan tapi menurut kebiasaan dan info dari beberapa orang yang menjalani karantina, kalo swab selanjutnya tidak lama jedanya kemungkinan swab sebelumnya hasilnya sudah negatif. Mudah-mudahan. Aamiin

Hari ini juga ada info baru kalo 1 lagi kawan kantor sudah bisa pulang berarti sampai hari ini sudah ada 3 kawan kantor yang negatif. Info tambahan juga kalo ada kawan kantor yang swab pertama di RS Doris

Sampai malam menjelang tidur masih belum ada hasil swab aku tadi siang. Semoga besok diinfokan dan hasilnya negatif.

Jumat, 3 Juli 2020

Terbangun dini hari dan ga bisa tidur lagi. Deg-degan menanti hasil swab

Pagi sekitar jam 09.30 dihubungi sama perawat BPSDM dan mengabarkan kalo hasil swab aku kemarin negatif dan sudah punya hasil negatif 2x itu artinya sudah diperbolehkan pulang. Dijadwalkan pulang pukul 15.00 sambil menunggu surat-surat administrasi dan obatnya. Disarankan untuk tidak keluar kaman dulu. Alhamdulillah akhirnya selesai juga masa isolasi dengan hasil yang baik. Langsung deh mengabari keluarga. Ah masih lama masih bisa santai dulu

Beberapa menit kemudian ditelpon lagi. Katanya dimajukan jam 11. Wah langsung panik. Ya udah packing sama mandi. Ga lupa ngabarin keluarga minta dijemput.

Setelah waktunya tiba, aku meninggalkan BPSDM Kalteng dan diberi beberapa dokumen berupa resume medis selama perawatan, surat keterangan sehat yang menyatakan sudah 2 kali mendapat swab PCR negatif, dan surat keterangan istirahat (lagi) selama 14 hari
=================================

Tidak sedikit masyarakat yang menyangkal tentang eksistensi MERS-CoV2 atau biasa disebut COVID-19 ini namun tidak sedikit juga orang yang benar-benar merasakan paparan virus ini baik itu tanpa gejala atau dengan gejalan hingga harus dirawat di RS bahkan ada yang harus menyerah terhadap penyakit ini

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan dihindarkan dari segala marabahaya dan penyakit

Sabtu, 01 Agustus 2020

Ganti Lensa Kacamata (Lagi)


Beberapa bulan terakhir kondisi penglihatan agak kurang enak. Berasa masih membayang alias rabun meskipun pake kacamata apalagi klo urusan mmbaca tulisan yang kecil atau agak jauh. Karenanya perlu juga nih periksa ukuran minus mata dan kebetulan udah lama juga ga dicek

Nyobain lensa baru

Akhirnya mumpung hari libur dan udah lama ga nge-mol berangkatlah ke mall di kotaku ini (mall disini mall sekedarnya dan ga ada banyak pilihan). Langsung ke lantai 2 ada outlet optik disana dan hasil survey ku sih disana harga lensa termurah

Setelah dicek ternyata benar. Minusnya sih tetap tapi nambah silindernya. Tepatnya minus 0,5 dan silinder 0,5

Akhirnya pilih-pilih tipe lensa. Yang ready untuk ukuran itu hanya lensa standar, anti blueray, dan photocromic anti-blueray. Ya udah aku pilih yang jenis terakhir. Anti-blueray karena memang sehari-hari akrab bertatap-tatapan sama komputer dan photocromic biar gaya aja pas di luar ruangan yang panas kayak pake kacamata item hehe yang pasti sih buat ngurangin intensitas cahaya yang kena ke mata kalo pas di luar ruangan. Kebetulan frame yang lama masih bisa dipake ya udah ganti lensanya aja

Sebenarnya sih agak ribet ya kalo cuma minus segitu pake kacamata. Beberapa teman juga bilang, "wah cuma minus segitu aja pake kacamata, aku yang minusnya lebih besar nyaman nyaman aja tuh ga pake kacamata", tapi gimana ya udah kebiasaan sih pake kacamata jadi burem dikit udah ga nyaman maklum udah pake kacamata sejak 2003 hingga sekarang. Ukuran minusnya pun naik turun

Mungkin ada dari pembaca yang merasa kurang nyaman dengan penggunaan kacamata? atau justru nyaman nyaman aja? Silahkan tuliskan pendapatnya di kolom komentar ya. Terima kasiiiih!!!!

Jumat, 21 Desember 2018

Race Lari di 2018


Bagi sebagian orang yg hobi lari, race merupakan suatu ajang pembuktian latihan selama ini dan sekalian jalan-jalan juga sih. Aku bukan termasuk maniak race karena memang untuk race di luar kota butuh biaya yang tidak sedikit. Jadi aku ngikuti race kecil-kecilan aja sih di kota kebanggaan Palangka Raya
  1. Kalteng Pos Run 7k
  2. Diadakan oleh koran harian lokal Kalteng Pos. Biaya pendaftara Rp. 150.000,- (harga komunitas) menempuh jarak (dalam catatan GPS jam aku) 8,45k meskipun tajuknya 7k


  3. Mandiri Jakarta City Marathon 2018
  4. Diadakan oleh Bank Mandiri. Aku hanya dapat slot 5k seharga Rp. 125.000,- (harga early bird). Sayangnya race ini ditunda atau mungkin dibatalkan H-3 sebelum penyelenggaraan. Kecewa berat karena udah terlanjur berangkat akhirnya jalan-jalan aja sama keluarga. Di refund biaya pendaftaran tapi akomodasi enggak!

  5. Fun Run 3k (1st Anniversary Palangka Raya Runners)
  6. Diadakan oleh komunitas lari Palangka Raya Runners (Indorunners Palangka Raya) bertajuk Fun Run 3k untuk merayakan ulang tahun pertama mereka. Biaya pendaftaran Rp 80.000,-

  7. Kalteng Damai Night Run 2018
  8. Diadakan oleh TNI Angkatan Darat untuk memperingati Hari Juang Kartika. Kategori 5k (gratis)

Yah cuma 4 race (1 batal) itu aja race di tahun 2018. Semoga di tahun 2019 bisa ikutan race major minimal 1 kali lah dan kategori HM

Jumat, 05 Oktober 2018

Implementasi GERMAS Dengan Berlari



GERMAS adalah akronim dari Gerakan Masyarakat Sehat yang merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat. Untuk menyukseskan GERMAS, tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Peran Kementerian dan Lembaga di sektor lainnya juga turut menentukan, dan ditunjang peran serta seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari individu, keluarga, dan masyarakat dalam mempraktekkan pola hidup sehat, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi dalam menggerakkan anggotanya untuk berperilaku sehat; serta Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya.

GERMAS dapat dilakukan dengan cara: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan, dan Menggunakan jamban. Pada tahap awal, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin.

Salah satu implementasi dari melakukan aktifitas fisik adalah dengan cara berlari. Berlari atau lari adalah cabang olahraga tertua di dunia. Sebelum menjadi sebuah cabang olahraga, lari sudah dikenal oleh peradaban-peradaban manusia kuno.Secara awam gerakan jalan dengan lari tidak ada perbedaan yang berarti. Baik jalan maupun lari adalah gerakan memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lainnya dengan cara melangkahkan kaki secara bergantian. Jadi pengertian lari juga sama dengan jalan yaitu gerak berpindah tempat atau memindahkan tubuh daei satu titik ke titik lainnya dengan cara melangkah menggunakan kaki secara bergantian. Namun antara jalan dan lari ada perbedaan yang signifikan terutama kontak kaki dengan tanah.

Berlari dengan koordinasi gerak yang baik akan dapat menghemat banyak tenaga dan juga terhindar dari cedera.  Namun, masih banyak yang belum tahu cara berlari yang benar. Agar bisa berlari dengan benar, Anda perlu mengetahui postur dan teknik yang baik. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  1. Badan rileks, tidak kaku, dan sedikit condong ke depan.
  2. Pandangan lurus ke depan.
  3. Ayunkan lengan dengan rileks
  4. Atur irama dan panjang langkah agar tepat dan teratur
  5. Saat mendarat, mendaratlah dengan bola kaki atau telapak bagian tengah agak ke depan.
  6. Hindari menekan langkah yang terlalu keras ke tanah (vertikal). Sebaliknya, melangkah seolah-olah mendorong ke depan

Beberapa manfaat lari untuk kesehatan tubuh, yaitu dapat memperlancar aliran darah, serta meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh. Di samping itu, lari juga dapat memicu pengeluaran hormon dan enzim yang merangsang jantung dan otot bekerja lebih baik. Tak hanya itu, simak manfaat lari lainnya berikut ini.

Mengurangi Berat Badan
Olahraga lari dapat memicu pembakaran kalori dalam tubuh Anda. Banyaknya kalori yang dibakar dipengaruhi oleh seberapa cepat dan seberapa jauh jarak lari Anda, serta berat badan Anda.

Baik Bagi Kesehatan Lutut
Melakukan olahraga lari dapat memelihara kesehatan lutut, bahkan pada penderita arthritis sekalipun. Studi menunjukkan bahwa olahraga lari dapat menurunkan risiko arthritis pada lutut dan pinggul, serta merangsang pertumbuhan tulang rawan pada lutut. Namun apabila Anda memiliki masalah pada sendi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu, sebelum memulai olahraga lari sebagai aktivitas rutin.

Mencegah Osteoporosis
Olahraga lari dapat memicu pembentukan sel-sel tulang baru. Hal ini yang membuat tulang Anda menjadi lebih kuat dan dapat menurunkan risiko terkena osteoporosis di kemudian hari.

Mengurangi Risiko Jantung Koroner
Berlari lebih dari 16 km per minggu, setidaknya bisa meningkatkan HDL atau kolesterol baik dalam tubuh Anda. Manfaat lari lainnya yang bisa Anda dapatkan yaitu berkurangnya kadar trigliserida dan lemak dalam tubuh. Dan jika Anda bisa meningkatkan jarak lari hingga 80 km per minggu, Anda akan mengalami peningkatan HDL yang signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang melakukan olahraga lari teratur dan lebih dari 50 menit dalam seminggu dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Selain melakukan olahraga teratur, Anda perlu menunjangnya dengan makanan dan gaya hidup yang sehat.

Memperbaiki Suasana Hati
Seseorang yang rutin melakukan olahraga lari, akan merasa hari-harinya lebih baik dan bahagia. Hal ini mampu meningkatkan suasana hati Anda, dan berdampak baik pada kualitas hidup Anda. Selain itu, olahraga lari juga dipercaya dapat menurunkan risiko terjadinya depresi. Hal ini karena ketika lari, tubuh melepaskan hormon endorfin yang mampu berinteraksi dengan reseptor di otak Anda untuk mengurangi persepsi tentang rasa sakit. Hormon ini juga memicu perasaan positif di dalam tubuh. Olahraga dipercaya dapat meringankan penyakit depresi ringan hingga sedang.

Meski mudah dan dapat dilakukan kapan saja, sebaiknya Anda mengetahui beberapa tips lari di bawah ini agar hasil yang didapatkan lebih maksimal dan dapat mengurangi risiko cedera yang mungkin terjadi. Beberapa hal yang harus diketahui, di antaranya:
  1. Pilih sepatu yang tepat, guna mengurangi risiko cedera.
  2. Lakukan pemanasan sebelum lari.
  3. Mulailah dengan berjalan selama lima menit atau lebih.
  4. Sisipkan lari setidaknya selama beberapa menit, kemudian kembali berjalan. Lakukan ini secara bergantian.
  5. Tingkatkan durasi lari Anda secara bertahap, hingga Anda mampu berlari tanpa berjalan.
  6. Lakukan pendinginan dengan berjalan pelan, agar detak jantung dan tekanan darah Anda kembali normal.

Selain tips di atas, perlu juga bagi Anda untuk bergabung dengan komunitas lari yang bertebaran banyak hampir di setiap kota. Untuk wilayah Kalimantan Tengah sendiri ada beberapa komunitas lari yaitu
  1. Kapuas Runners, berlokasi di Kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas
  2. Palangka Raya Runners (Indorunners Regional Palangka Raya), berlokasi di Kota Palangka Raya
  3. AMRunners (Indorunners Regional Sampit), berlokasi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur
    A post shared by AMRunners (@amrunners) on
  4. Kobar Runners (Indorunners Regional Pangkalan Bun),  berlokasi di Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat
    A post shared by KOBARRUNNERS (@kobarrunners) on
  5. Tewei Runners, berlokasi di Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara

Rabu, 03 Oktober 2018

Palangka Raya Berkabut Asap 2018: Berbagi Masker


Beberapa minggu ini Palangka Raya mulai diliputi kabut asap efek dari kebakaran hutan. Sejak pagi hingga malam aroma asap tercium jelas di indera penciuman. Konon kata orang-orang kesehatan, kalo sering terpapar asap kayak gini memicu infeksi saluran pernafasan.

Beranjak dari hal itu kami dari komunitas Palangka Raya Runners berinisiatif untuk membagikan masker. Mungkin tidak banyak membantu tapi itulah salah satu bentuk kepedulian kami untuk daerah kami sendiri

Bermodalkan uang sumbangan anggota dan uang kas maka kami membeli masker yang akan dibagikan di salah satu titik ramai yang ada di kota tercinta yang berjuluk Kota Cantik ini. Peminatnya ternyata banyak, menandakan kepedulian warga terhadap kesehatan sendiri itu masih cukup besar.

Menurut situsnya BMKG, kandungan PM10 di udara kota Palangka Raya sudah melebihi batas "baik". Oh ya PM10 adalah Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer) atau bisa dibilang debu yang jika melebihi batas normal dan terhirup dalam jangka waktu lama akan sangat mempengaruhi kesehatan khususnya pernafasan

Harapan kami adalah semoga kabut asap ini tidak semakin parah dan segera berakhir.
Berikut foto-foto kegiatan berbagi masker Palangka Raya Runners yang juga merupakan regional dari Indorunners









Senin, 15 Januari 2018

Komunitas Lari Palangka Raya Runners


Ini adalah tulisan yang sebenarnya berat untuk aku tulis. Bukan karena materinya tapi kemampuan merangkai kalimat yang semakin tumpul karena beberapa bulan terakhir berkutat dengan pekerjaan yang mayoritas berupa angka-angka. Namun karena semangat yang ditularkan dari teman-teman di komunitas ini maka semangat menulis pun mulai ada lagi. Kalo kata Ustadz Arifin Ilham, "ada iman sedikit makanya pergi ke masjid, dengan pergi ke masjid maka imannya akan bertambah". Semoga semangat menulis yang sedikit ini bisa makin bertambah. Lagian domain juga udah minta diperpanjang, sayang kan kalo di-anggurin gitu aja.

Palangka Raya Runners, ini komunitas pertama yang aku ikuti di Kota Cantik Palangka Raya. Menurut pengurusnya, komunitas ini baru saja terbentuk awal Desember 2017 dan masih belum banyak kegiatan lari, bahkan untuk jadwal tetap pun masih belum ada. Oke ga masalah yang penting aku dapat tambahan teman baru sesama hobi lari.

Akhirnya bergabung lah aku di komunitas ini, ikut di beberapa jadwal larinya dan memang benar peminat untuk komunitas ini masih bisa dibilang sangat sedikit walaupun sebenarnya banyak yang hobi lari di bilangan Jalan Katamso namun kayaknya ini komunitas belum banyak dilirik. Yang ada malah anggota komunitas yang lirak-lirik cewek-cewek yang suka lari hehe maklum anggota rata-rata para cowok masih muda.

Namun makin kesini yang ikut lari bersama makin banyak aja, apalagi setelah keluar jadwal rutin dari pengurusnya yaitu Rabu Malam dan Minggu Pagi. Begitu juga konsep lari yang fun dan cukup mampu diikuti oleh pelari amatir bahkan untuk pemula sekalipun membuat komunitas ini makin berkembang. Beberapa moment "kebetulan" bertemu bahkan lari bareng Gubernur Kalteng, beliau Bapak Sugianto Sabran, juga ga disia-siakan oleh komunitas ini untuk setidaknya berfoto bersama bahkan sempat meminta saran beliau untuk komunitas yang bahkan belum bisa dibilang seumur jagung ini.

Dukungan sosial media khususnya instagram pada komunitas ini juga luar biasa, beberapa postingan terkait jadwal, foto dan video kegiatan sempat di-posting ulang oleh beberapa akun yang cukup banyak followersnya. Ini hal yang positif sebagai media penyebaran informasi kegiatan dan juga tentunya menularkan virus lari yang bagi beberapa orang justru membuat semakin ketagihan.

Dukungan para kakak pengurus juga luar biasa. Bagi kami-kami para pemula dan amatir saat lari dikasih rute dengan jarak yang tidak terlalu jauh bahkan untuk beberapa anggota yang masih harus tertatih tetap ditemani kakak pengurus yang jadi sweeper hingga garis finish. Bahkan pada waktu tertentu, bagi yang kuat larinya bisa diajakin longrun 10k atau lebih.

Well, semoga dengan aku gabung di komunitas ini bisa menambah pertemanan yang tentunya pertemanan sehat dan harapan aku semoga bisa menjadi komunitas yang besar khususnya di Kota Palangka Raya ini.

Berikut foto-foto kegiatan Palangka Raya Runners yang aku sisipkan dari akun IG mereka.


Ini saat aku pertama ikut lari

Moment lari bersama Bapak Sugianto Sabran (Gubernur Kalteng)

Moment foto bersama Bapak Sugianto Sabran (Gubernur Kalteng)

Wuih capek juga nyisipinnya, ya udah bagi pembaca yang mau lihat video saat interview dengan Bapak Gubernur Kalteng dan juga mau lihat keseruan lainnya langsung aja kunjungi akun instagram mereka di palangkaraya_runners.

Bagi pembaca yang juga berdomisili di Palangka Raya atau pas kebetulan di Palangka Raya saat jadwal rutin komunitas ini juga silahkan gabung. Gratis dan terbuka untuk siapa saja.

Palangka Raya Runners! Itah Hadari!

Rabu, 08 Maret 2017

Motivasi Hidup Sehat


Hai pemirsa, akhirnyaaaaaaa ketemu lagi dengan blog yang rada berdebu karena ga keurus ini. Maklum lah beberapa minggu terakhir ini banyak pekerjaan yang harus diprioritaskan.

gambar dari internet
Pembahasan kali ini saya mau cerita untuk memotivasi diri sendiri agar hidup lebih sehat. Sebelumnya saya mau cerita, beberapa waktu yang lalu ada acil atau dalam Bahasa Indonesianya adalah tante yang meninggal. Setelah saya tanya sama anak-anak beliau, ternyata saat meninggal gejalanya hampir sama seperti almarhumah mama dulu yaitu liver.

Saya lalu menghubung-hubungkan riwayat penyakit di keluarga kami. Dari struktur kerabat almarhumah mama ada kakek, almarhumah mama, dan almarhumah acil yang beberapa waktu kemaren meninggal karena liver padahal orang-orang tersebut dibilang aktif dalam bergerak. Mungkin kakek dulu meninggal karena memang pengobatan belum se-modern sekarang tapi almarhumah mama yang aku tau banget seperti apa penanganan medisnya akhirnya harus menyerah dengan diagnosa akhir sirosis.

Dari struktur kerabat abah, ada almarhum om yang meninggal juga karena liver ini. Sedangkan almarhumah nenek meninggal dengan riwayat sakit jantung.

Dari data-data sederhana tersebut saya sampai ke kesimpulan sederhana, SAYA KEMUNGKINAN BISA JUGA TERKENA PENYAKIT TERSEBUT dan saya mulai berpikir untuk hidup lebih sehat lagi.

Langkah pertama adalah memperbaiki pola makan. Pola makan saya rada kurang bagus. Kalo badan capek biasanya malas makan. Makan pun sekedar kenyang tanpa harus ambil pusing soal nutrisi. Nah kini harus mulai diubah, makan teratur dan tercukupi baik secara porsi makan ataupun nutrisi.

Langkah kedua adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Hasil dari mengumpulkan referensi, ternyata salah satu cara meningkatkan daya tahan tubuh adalah dengan olahraga dan olahraga yang baik itu adalah yang rutin serta terukur karenanya saya memilih bersepeda setiap pagi dan sore untuk berangkat dan pulang kerja serta sesekali bersepeda agak jauh saat weekend. Pengen juga latihan berlari, doakan yaa.. Ada beberapa teman yang bilang kalo saya sudah kurus dan kalo pake olahraga bisa tambah kurus, menurut saya berat badan akan mengikuti kesehatan kita. Jika kita sehat, yang gendut akan proporsional, pun yang kurus akan proporsional juga

Kehujanan, berteduh dulu di area Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya

Jalan menuju bandara

Langkah ketiga adalah membiasakan hidup sehat. Tidak merokok pasif, kalo boker harus cebok (ini udah dilakuin lama ya), pengelolaan stress, dan beberapa pola hidup sehat lainnya

Langkah keempat adalah membereskan sholat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam gerakan sholat ada makna yang terkandung baik secara batin maupun secara fisik.

Mungkin itu aja untuk kali ini, jika ada pemirsa yang ingin menambahkan bisa di-comment di form di bawah. Makasih

Diatas Jembatan Kahayan Palangkaraya

idem

Selasa, 22 Desember 2015

Hari Ibu


Seperti biasanya, tiap tanggal 22 Desember maka akan banyak ucapan dan perayaan terkait Hari Ibu. Hari dimana ucapan mengalir deras diikuti dengan seorang anak yang berfoto sama ibunya atau anaknya si anak yang berfoto dengan neneknya (eh ini hari ibu apa hari nenek?).

Di Kalimantan sendiri khususnya suku Banjar, panggilan "ibu" biasanya adalah "mama" begitu juga aq biasa manggil "mama".

Mumpung katanya Hari Ibu, aq mau mengenang sedikit pengalaman bersama mama. Mengenang saat sakit beliau hingga wafat. *Siapin tisu buat ngelap zat cair yang masih berwarna putih yang suka naik turun di celana hidung)*

Bertahun-tahun yang lalu ternyata awal dari penyakit beliau. Katanya sih Hepatitis. Kejadiannya sebelum tahun 1996 artinya aku masih SD. Waktu itu badan mama menguning dan sempat dirawat di RS. Ga banyak yang bisa aku ingat karena waktu itu aku masih terlalu imut kecil untuk memahami hal tersebut maklum anak jaman dulu lambat untuk dewasa.

2009 akhir, kejadian lagi sakitnya. Sempat dirawat dirumah hingga di RS. Berobat mulai dari medis hingga tradisional dengan ramuan herbal dan sempat sembuh. Hingga beberapa bulan berikutnya kesehatan mama ngedrop banget. Hanya berselang 1 bulan dan tepatnya 17 April 2010 mama sudah ga bisa bertahan lagi melawan penyakitnya dan wafat di RS Ulin Banjarmasin. Diagnosa akhir adalah sirosis. Menurut http://www.alodokter.com/sirosis

Sirosis adalah kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati. Perkembangan penyakit yang perlahan-lahan mengakibatkan jaringan sehat digantikan oleh jaringan rusak. Dan pada akhirnya, hati tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Jaringan yang rusak akan menghambat aliran darah yang melewati hati. Fungsi hati dalam memproses nutrisi, hormon, obat dan racun yang diproduksi tubuh akan melambat. Produksi protein dan unsur lain yang terjadi di dalam hati juga akan terhambat.
Kerusakan pada hati yang disebabkan oleh sirosis tidak bisa diperbaiki dan bahkan bisa menyebar lebih luas hingga akhirnya hati tidak bisa berfungsi dengan benar. Kondisi inilah yang sering disebut dengan istilah gagal hati. Sebelum sirosis menyebabkan gagal hati, perkembangannya berlangsung bertahun-tahun. Penanganan yang dilakukan hanya untuk memperlambat perkembangan penyakitnya
Waktu sebelum wafat, badan mama menguning semua bahkan darah dan airmata pun mulai menguning hingga kesadaran menurun. Itu karena bilirubin berlebihan di tubuh yang tidak bisa dinetralkan oleh hati yang sudah rusak.

Sedihnya, mama belum merasakan punya mantu dan punya cucu tapi setidaknya mama tau aku sudah bekerja dan bisa menata masa depan. Oh ya motor vario yang ada itu merupakan modal mama buat aq berangkat dan pulang kerja PP Kapuas -  Pulang Pisau (Waktu itu kantor masih di Pulang Pisau)
A photo posted by M. Ramdhani (@abangdhani) on
Akhir kata, aku ngucapin Selamat Hari Ibu (dan Hari Nenek) karena sebenarnya Ibu itu ga sekedar mengurus dan menjaga anak tapi juga ikut mengurus dan menjaga cucu. Pinjem jargonnya Ripley's Believe it Or Not, Unbelievable? Believe it

Rabu, 30 September 2015

Akut atau Kronis (?)


Kabut asap yang melanda Palangkaraya akhir-akhir ini berpengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat. Menurut informasi dari media massa banyak warga Palangkaraya terkena ISPA.

Tau ga ISPA itu singkatan dari apa? ISPA singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, bukan Infeksi Saluran Pernafasan Atas meskipun memang yang diserang adalah saluran pernafasan bagian atas seperti hidung yang tenggorokan.

Ngomong-ngomong soal "akut", tau ga definisinya? Berdasarkan KBBI akut adalah 1 timbul secara mendadak dan cepat memburuk (tt penyakit); 2 memerlukan pemecahan segera; mendesak (tt keadaan atau hal); gawat:penyediaan air bersih menjadi masalah yg --; 3 kurang dr 90o (tt sudut): sudut --. Jadi ISPA adalah sakit infeksi di saluran pernafasan yang timbul secara mendadak tentunya dengan adanya penyebab.

Oh ya ada lagi satu istilah yang erat kaitannya dengan penyakit dan kata akut yaitu "kronis". Menurut KBBI kronis adalah 1 terus-menerus berlangsung; tahan dl waktu yg lama (tt keadaan); 2 berjangkit terus dl waktu yg lama; menahun (tt penyakit yg melanda diri seseorang) yg tidak sembuh-sembuh

Jadi sudah tau kan ISPA itu sebenarnya apa dan pengertian Akut serta aku kasih bonus pengertian kronis. Semoga bisa menjadi tambahan ilmu bagi kita

Selasa, 01 September 2015

Aku Kudu Piye?


Jujur saja akhir-akhir ini semangat kerja menurun. Selain karena tanggal tua -baru hari ini gajian-, juga karena kondisi badan yang nge-drop. Efek kabut asap sih.

Kabut asap di Palangka Raya makin tebal aja, meskipun aku aktifitas di luar ruangan cukup sedikit paling cuma antar anak sekolah aja tapi efeknya luar biasa. Tadi malam badan udah pegel-pegel ga karuan kayak sakau habis digebukin orang, kepala pusing, tenggorokan sakit, hidung ga meler sih karena ingusnya kental banget dan berwarna agak kekuningan. Iseng cari artikel tentang ISPA, ternyata ciri-cirinya terjadi hampir semua sama aku tadi malam. Sumber Klik Disini Yaitu:

  1. Badan pegal -bener td malam badang pegel-pegel banget-
  2. Batuk -batuknya karena efek tenggorokan sakit kali ya-
  3. Sakit tenggorokan -naaah bener ini-
  4. Demam ringan -agak meningkat sih suhu tubuh kyknya-
  5. Ber-ingus -ini top deh meskipun kental-
  6. Tekanan di muka dan sering bersin -maksudnya tekanan di muka gmn ya? Bersin sih ga-

Jadi gmn ya hari ini, mau bertahan dengan ramuan herbal jahe hangat+madu aja atau nge-doping obat kimia? Kalo obat kimia ya mesti konsultasi dulu ke dokter. Atau beli obat batuk -yang katanya- herbal itu dulu ya? Yang pasti mau ningkatin banyaknya minum air putih sama istirahat aja. Siiip mari kita tidur siang -di kantor-

Selasa, 12 Agustus 2014

Gambar Bungkus Rokok


Kebijakan pemerintah untuk menerapkan gambar penyakit pada bungkus rokok sedikit banyak mempengaruhi temanku dalam merokok. Namun seberapa efektif kah?

Beberapa orang mungkin bisa terpengaruh. Namun ada beberapa orang yang lain yang tidak terpengaruh. Maksud dari pemerintah menerapkan hal tesebut adalah agar memberikan efek "takut". Beberapa orang tidak takut terhadap gambar penyakit-penyakit tersebut namun takut terhadap mertua atau istri. Nah sebaiknya ditempel foto mertua atau istri jd ketika mau merokok bakalan terlihat foto orang yang ditakuti tersebut

Selasa, 16 Juli 2013

Dengan ASI, Bayi Kebal Infeksi


Dari penelitian yang termuat dalam Pediatric Journal 1993, terbukti bahwa menyusui ekslusif paling tidak empat bulan pertama, dapat mengurangi kemungkinan bayi terkena infeksi saluran pencernaan (antara lain diare), infeksi saluran pernapasan, serta infeksi saluran telinga.

Lalu apa saja yang menyebabkan ASI membuat bayi lebih kebal penyakit infeksi?
  • Immunoglobulin. Zat kekebalan tubuh ini banyak ditemukan pada ASI. Konsentrasinya yang tertinggi ditemukan di kolostrum (susu jolong yang keluar pada 3-5 hari pertama kehidupan bayi). Immunoglobulin yang melindungi bayi dari infeksi telinga, hidung dan tenggorokan itu masih dapat ditemukan di ASI sampai usia dua tahun.
  • Laktoferin. Laktoferin akan mengikat zat besi, sehingga kuman tidak mendapatkan zat besi yang diperlukannya untuk hidup dan membelah diri. Zat ini jug apaling banyak terdapat di kolostrum, namun akan tetap ada sepanjang tahun pertama usia bayi.
  • Lysozyme. Lysozyme merupakan zat penting untuk proses pencernaan, berfungsi sebagai benteng dari “bakteri jahat” yang ada di usus halus. ASI mengandung Lysozyme 30 kali lebih tinggi dibandingkan susu formula apapun.
  • Bakteri baik. ASI mendorong pertumbuhan bakteri baik, yaitu laktobasilus, yang dapat menekan penyakit yang disebabkan bakteri jahat (seperti E.coli) serta parasit. Pada bayi ASI, jumlah laktobasilus di dalam ususnya 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan bayi susu formula.
  • Faktor alergi. Penelitian membuktikan, penyebab alergi yang ada di susu formula yang berasal dari sapi maupun kedelai, lebih lama berada dalam usus bayi (sekitar 60 menit) dibandingkan dengan ASI. Jadi, kemungkinan munculnya alergi pada anak ASI juga lebih rendah.
Menyadari banyaknya kelebihan ASI bagi benteng pertahanan tubuhbayi, jelas tak ada alasan bagi ibu untuk tidak menyusui bayinya. Anda tak ingin bayi mudah sakit, kan?

Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/dengan.asi.bayi.kebal.infeksi/001/001/1384/1/4

Rabu, 26 Juni 2013