Catatan Kecil Kehidupan Pribadi Sehari-hari Seorang Suami, Ayah, dan ASN

Disclaimer

Blog ini merupakan pindahan dari blog www.abangdhani.net, jadi apabila ada embel-embel atau kalimat yang berhubungan dengan URL/alamat tersebut maka itu merupakan postingan lama yang tidak di-edit

Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keseharian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Desember 2021

Katarak Husna (Bagian 2)


Ini adalah tulisan sambungan dari Katarak Husna (Bagian 1) harapannya tulisan ini ga banyak bagiannya.



Selasa, 30 November 2021 saatnya Husna kontrol kedua pasca operasi kataraknya. Berharap hasil operasinya makin bagus.

Kontrol ke dokter di klinik mata. Setelah mendaftar, seperti biasa masuk antrian untuk bertemu dokternya. Sebelum bertemu dokter, Husna dicek dulu penglihatannya dengan kacamata test yang bisa diganti-ganti lensanya. Setelah itu baru bertemu dengan dokter.

Setelah diperiksa lagi sama dokternya, hasil operasinya bagus namun karena mata kataraknya sudah lama sehingga mata Husna ada masalah yang dinamakan "mata malas" atau amblyopia. Itu disebabkan karena matanya memang tidak optimal digunakan saat bertahun-dengan dengan katarak sehingga ada yang namanya gangguan refraksi. Namun dokter masih penasaran apakah penglihatan Husna masih bisa dibantu dengan kacamata. Akhirnya dokter meminta untuk periksa lagi tekanan bola mata dan tingkat keburaman matanya.

Hasil dari pemeriksaan diserahkan lagi ke dokter dan menurut analisa dokter, kacamata tidak akan membantu banyak terhadap penglihatan Husna. Namun dokter masih optimis karena masih belum sampai 2 pekan pasca operasi. Dijadwalkan lagi Husna akan kontrol 1 bulan lagi yaitu tepatnya 29 Desember 2021. Nanti akan dilihat perkembangan penglihatannya. Harapannya sih penglihatannya masih bisa dikoreksi walaupun dengan kacamata namun jika tidak bisa juga, LASIK menjadi alternatifnya.

Minggu, 28 November 2021

Katarak Husna (Bagian 1)


Kurang lebih 1 pekan yang lalu tepatnya Sabtu, 20 November 2021, Husna (9 tahun) anak kami satu-satunya menjalani operasi mata dengan diagnosa katarak. Teman-teman banyak yang bertanya penyebabnya dan gimana kok bisa ketahuan? Aku ceritain eh besoknya teman yang lain tanya lagi. Daripada bolak-balik cerita mending aku tulis aja jadi kalo ada yang tanya lagi, suruh baca sendiri aja hehe....

Gambar ilustrasi, diambil dari situs pixabay.com

Awal Tau Ada "Sesuatu" di Mata Husna

Pertengahan tahun 2020, aku terinfeksi COVID-19 (baca juga: Cerita Seorang Penyintas COVID-19). Beberapa bulan setelah sembuh, aku merasa pandangan makin kabur dan periksa mata di optik. Waktu itu iseng aja nyuruh Husna untuk periksa juga, namanya gratis ya lumayan lah kalo emang matanya minus biar bisa dikoreksi dengan kacamata sebelum tambah parah, pikirku dulu begitu.

Namun setelah diperiksa ternyata mata kanannya ga bisa dibaca sama alat periksa mata itu. Beberapa kali dicoba namun tetap ga bisa. Saat disuruh tutup mata kiri, Husna ga bisa baca Kartu Snellen dan bilangnya ga bisa lihat. Disarankan sama petugas optiknya untuk konsultasi ke dokter mata namun karena Husna ga ada keluhan jadi kami sedikit mengabaikannya.

Setahun kemudian, barulah kami memeriksakan mata Husna. Ga tau kenapa seakan tergerak aja hati untuk periksa. Proses rujukan BPJS pun kami minta dari dokter keluarga dan minta rujukan ke klinik mata dekat rumah.

Pertama kali periksa, Husna sudah dipastikan dokter bahwa matanya katarak. Hasil anamnesa dokter menyimpulkan bahwa kataraknya bawaan lahir atau disebut katarak kongenital.

Saran Dokter Spesialis Mata

Klinik mata tempat Husna periksa digawangi oleh dokter spesialis mata. Nah karena diagnosanya katarak maka tidak ada jalan lain harus dilakukan operasi. Namun dokter masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan katarak hanya pada lensa atau kena pembuluh darahnya. Jika hanya katarak pada lensa bisa dilakukan operasi biasa namun jika kena pembuluh darah maka operasi harus dilakukan di RS yang lebih besar yang ada di Pulau Jawa.

Periksa Lanjutan dan Keputusan Operasi

Pada hari yang sama disaat periksa di klinik, dilakukan pemeriksaan lanjutan. Diantaranya adalah periksa tekanan bola mata dan USG untuk melihat posisi kataraknya.

Alhamdulillah posisi katarak hanya pada lensa namun tekanan bola matanya cukup tinggi melebihi tekanan normal sehingga dokter memerikan terapi tetes mata untuk menormalkan tekanan bola mata dan disuruh kontrol satu pekan lagi sekalian meminta keputusan mau operasi atau tidak.

Dokter juga sudah menjelaskan efeknya apa saja jika dilakukan penundaan operasi yaitu matanya mungkin akan menjadi mata malas dan tidak berkembang berhubung usia Husna masih masa pertumbuhan.

Setelah satu pekan, tekanan bola mata menjadi normal dan memang dari awal kami pun menyetujui jika dilakukan tindakan operasi karena kami tidak ingin menunda dan berefek buruk bagi perkembangan Husna.

Namun, operasi katarak yang sedianya cukup diberikan anastesi lokal ternyata tidak bisa diterapkan pada usia anak berhubung anak mungkin nanti bisa berontak jadi harus dilakukan anastesi total atau "ditidurkan" dan harus dilakukan di Rumah Sakit sehingga akan dirujuk lagi. Kami pun meng-iya-kan saja

Periksa di Rumah Sakit dan Penjadwalan Operasi

Berhubung Husna harus anastesi total alias bius total maka mau tidak mau harus cek kesiapan fisiknya. Jadi Husna harus menjalani beberapa pemeriksaan yaitu periksa darah, rontgen, dan dikonsultasikan ke dokter anak.

Alhamdulillah hasil pemeriksaan baik dan dijadwalkan untuk operasi pada Sabtu malam tanggal 20 November 2021 pukul 20.00

Opname di Rumah Sakit dan Proses Operasi

Jadwal operasi sabtu malam, kami kirain masuk RS nya sabtu pagi ternyata ga hehe.... sehari sebelumnya pagi-pagi aku ditelpon oleh pihak RS untuk ketemu dokter mata lagi. Akhirnya pagi itu juga ketemu dokter mata dan disuruh langsung masuk ruangan rawat inap.

Mengisi waktu luang dengan membaca komik

Menjelang siang, Husna dapat ruang perawatan dan kami bingung mau ngapain. Toh Husna juga ga sakit, kondisi fisiknya bagus. Akhirnya setelah tanya perawatnya untuk ijin keluar cari makan siang dan pulang untuk bawa bekal selama di RS dan diperbolehkan asal sudah kembali maksimal pukul 17.00. Langsung cari makan siang dan pulang untuk persiapan.

Pukul 17.00 kami sudah kembali ke ruang perawatan. Tentu saja masih dengan ke-gabut-an bingung mau ngapain. Dokter pun ga ada visite, yang ada hanya petugas yang mengantarkan makan. Ya sudah kami bertahan aja lah daripada bolak-balik ke rumah. Akhirnya kami nginap aja deh....

Sabtu pagi, perawat datang dan mau pasang infus. Dasarnya Husna memang secara fisik ga ada keluhan maka kami minta izin untuk dipasang nanti saja biar si anak bisa bergerak bebas. Perawatnya setuju dan direncanakan akan dipasang siang saja saat Husna mulai puasa pada pukul 12.00

Siangnya kami tunggu perawat ga ada yang datang ke ruang perawatan. Kami inisiatif untuk bertanya pada perawat terus dijawab, dipasang nanti aja yang penting anaknya puasa. Ya udah syukur deh si anak masih bisa aktif tanpa gangguan.

Sekitar pukul 17.00 perawat pun datang untuk masang infus. Cuss.. sekali tusuk langsung aman. Alhamdulillah.

Sekitar pukul 20.00 beberapa dokter muda masuk ke ruangan mengecek kesiapan dan menyampaikan akan segera dilaksanakan operasi dan Husna giliran kedua karena sebelumnya akan dilakukan operasi katarak juga.

Shalat duduk


Tak lama kemudian perawat datang dan membawa Husna ke ruang operasi. Di depan ruang operasi Husna dipersiapkan sekali lagi dan disuntikkan obat bius. Setelah itu dibawa ke ruang operasi.

Persiapan di depan ruang operasi


Kurang lebih setengah jam kemudian, dokter mata keluar dari ruang operasi dan menemui kami serta menyampaikan bahwa operasi telah selesai dan akan melakukan visite pada hari senin

Sebelum operasi dibikin happy aja walaupun sebenarnya tegang


Ya udah pada hari minggunya kami mengusahakan untuk istirahat saja walaupun tetap di RS

Pulang Dari Rumah Sakit

Senin, 22 November 2021 pagi-pagi dokter matanya visite ke ruangan dan perawat yang disuruh membuka perbannya serta mencoba cek penglihatan. Dokter mengatakan bagus dan hari itu juga boleh pulang. Namun malamnya diminta kontrol ke klinik mata lagi untuk ketemu sama dokter mata disana


Kontrol Pertama Pasca Operasi

Senin malam itu juga kami kontrol ke klinik mata dan dokter menyatakan hasilnya bagus, lukanya tertutup bagus, syaraf-syarafnya normal, tekanan bola mata juga bagus, masih ada gelembung udara yang memang sengaja dimasukkan dan nanti akan hilang dengan sendirinya. Disarankan untuk kontrol lagi pada hari Selasa, 30 November 2021 dan diingatkan untuk memberikan tetes mata yang sudah diresepkan dokter serta menghindari menunduk, mengangkat beban berat, bersin dan batuk terlalu kuat, ngeden, dan melatih mata yang dioperasi dengan menutup mata sebelahnya yang normal

Terus bagaimana kelanjutannya? Nanti akan aku tuliskan pada bagian kedua tulisan ini ya.... Sampai jumpaaa...


Minggu, 02 Agustus 2020

Idul Fitri dan Idul Adha Di Tengah Pandemi


Ga terasa udah hari raya qurban aja nih atau disebut Idul Adha. Sekalian aja ya postingnya juga tentang Idul Fitri kemaren yang belum sempat di posting.

Foto saat Idul Fitri

Di tengah pandemi COVID-19 ini masyarakat dihimbau untuk tidak kumpul-kumpul. Tentu saja maksudnya adalah untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Kan kita ga tau diantara semua yang kumpul bisa jadi ada yang positif sehingga menjadi reaksi berantai penularan. Belum lagi kalo virus itu (pastinya tidak sengaja) terbawa ke rumah dan menulari keluarga kita. Akhirnya himbauan pemerintah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah masing-masing bersama keluarga inti.

Namun agak berbeda dengan Idul Adha kali ini. Tidak ada himbauan pemerintah untuk shalat di rumah masing-masing. Itu artinya kalo orang awam menterjemahkannya sih boleh untuk shalat di masjid atau tanah lapang.

Berhubung di kompleks perumahan ada masjid dan ada penyelenggaraan shalat ied akhirnya kami sekeluarga shalat disana. Tentunya dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah seperti mencuci tangan, menggunakan masker, mengatur jarak shaf antar jamaah, dan tidak berjabat tangan.

Foto saat Idul Adha

Agak aneh sih tidak berjabat tangannya karena hari raya identik dengan itu tapi ya udah lah daripada melanggar protokol dan ujung-ujungnya merugikan diri dan keluarga jadi sebaiknya diikuti saja.

Untuk silaturahmi dengan keluarga jauh pun masih tetap kami lakukan secara online. Saat Idul Fitri kemaren menggunakan aplikasi zoom meeting karena memang kerabat tersebar dimana-mana dan silaturahmi dengan para sepupu, om, tante, ponakan, dan lainnya namun untuk Idul Adha hanya video call menggunakan aplikasi WhatsApp. Itupun hanya ke sodara-sodara kandung saja

Itulah lebaran Idul Fitri dan Idul Adha kami tahun ini. Tahun dimana dunia sedang dilanda wabah COVID-19. Semoga wabah ini cepat berlalu. Aamiin ya rabbal 'alamin

Sabtu, 01 Agustus 2020

Ganti Lensa Kacamata (Lagi)


Beberapa bulan terakhir kondisi penglihatan agak kurang enak. Berasa masih membayang alias rabun meskipun pake kacamata apalagi klo urusan mmbaca tulisan yang kecil atau agak jauh. Karenanya perlu juga nih periksa ukuran minus mata dan kebetulan udah lama juga ga dicek

Nyobain lensa baru

Akhirnya mumpung hari libur dan udah lama ga nge-mol berangkatlah ke mall di kotaku ini (mall disini mall sekedarnya dan ga ada banyak pilihan). Langsung ke lantai 2 ada outlet optik disana dan hasil survey ku sih disana harga lensa termurah

Setelah dicek ternyata benar. Minusnya sih tetap tapi nambah silindernya. Tepatnya minus 0,5 dan silinder 0,5

Akhirnya pilih-pilih tipe lensa. Yang ready untuk ukuran itu hanya lensa standar, anti blueray, dan photocromic anti-blueray. Ya udah aku pilih yang jenis terakhir. Anti-blueray karena memang sehari-hari akrab bertatap-tatapan sama komputer dan photocromic biar gaya aja pas di luar ruangan yang panas kayak pake kacamata item hehe yang pasti sih buat ngurangin intensitas cahaya yang kena ke mata kalo pas di luar ruangan. Kebetulan frame yang lama masih bisa dipake ya udah ganti lensanya aja

Sebenarnya sih agak ribet ya kalo cuma minus segitu pake kacamata. Beberapa teman juga bilang, "wah cuma minus segitu aja pake kacamata, aku yang minusnya lebih besar nyaman nyaman aja tuh ga pake kacamata", tapi gimana ya udah kebiasaan sih pake kacamata jadi burem dikit udah ga nyaman maklum udah pake kacamata sejak 2003 hingga sekarang. Ukuran minusnya pun naik turun

Mungkin ada dari pembaca yang merasa kurang nyaman dengan penggunaan kacamata? atau justru nyaman nyaman aja? Silahkan tuliskan pendapatnya di kolom komentar ya. Terima kasiiiih!!!!

Kamis, 28 Februari 2019

Telor Yang Berubah Menjadi Ayam dan Lele


Foto koleksi Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya
Tulisan ini bisa dibilang nyambung sama tulisan sebelumnya yaitu Camping Ayah Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya. Namun kali ini aku pengen cerita tentang Gala Dinner yang seru

Jadi, peserta camping ayah kan dibagi berkelompok dengan nama suku. Aku ada di Suku Kecebong Kecubung Merah. Nah tiap suku diharapkan memasak se-enak mungkin untuk kegiatan Gala Dinner. Di kelompok kami, masak digawangi oleh Ustadz Munir. Dengan bahan yang ada, kami masak nasi, lauk telor dadar campur kornet, terong goreng, dan kacang panjang kukus serta mentimun. Tidak lupa sambal sebagai penambah selera makan

Setelah selesai masak, kami disuruh menyajikan makanan di atas 2 buah loyang besar. Untuk dibawa ke tempat berkumpul. 1 buah loyang besar akan kami makan dan loyang besar lainnya akan ditukar-tukar dengan kelompok lain. Dan teeerreeeeenngggg!!! Telor kornet sederhana pun berubah menjadi ayam goreng dan lele pada 1 loyang yang ditukar tadi.
Foto koleksi Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya

Foto koleksi Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya
Para ayah pun makan dengan lahap dan seru. Maklumlah mungkin sudah keroncongan perutnya sebab berkegiatan dari siang sampai sore hari. Saking serunya para ayah ini ada yang bilang "rejeki yang tertukar". Semoga bisa saling mengikhlaskan ya ayah-ayah hebat semua.

Paginya kami masak lagi untuk sarapan. Kali ini menunya kurang lebih sama dengan tadi malam (aslinya sih untuk ngabisin bahan masak aja). Yang berbeda hanya terong yang dibakar memanfaatkan sisa bara api yang dibuat ayah-ayah tenda sebelah. Sayangnya masih pagi ini telornya tidak bisa berubah lagi menjadi ayam atau lele karena para ayah sarapan di tenda masing-masing

Rabu, 27 Februari 2019

Camping Ayah Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya



Ayah sangat berperan penting terhadap pendidikan anak. Bukan sekedar mencari nafkah untuk menghidupinya tapi juga harus terlibat aktif dalam pendidikan dan pengasuhan. Banyak penelitian yang menyatakan "ketidakberesan" tingkah laku anak saat dewasa ada pengaruhnya dari dekat atau tidaknya anak ke ayahnya.

Dalam rangka inilah Sekolah Sahabat Alam Palangka Raya melaksanakan kegiatan Camping Ayah untuk wali muridnya dengan mengambil tema "Menjadi Ayah Milennial Dengan Tidak Meninggalkan Kearifan Lokal dan Tradisi Yang Baik" dengan materi Coaching Clinic "Ayah bercerita, anak bahagia". Kegiatan camping diadakan di Bumi Perkemahan Nyaru Menteng tanggal 23 - 24 Februari 2019

Secara ringkas, kegiatan camping ayah ini sangat seru apalagi buat aku yang pertama kali ikut. Sebelum hari H udah kepikiran wah bakalan dapat tambahan kawan-kawan baru ini.

Hari pertama, para ayah kumpul di sekolah untuk saling berkoordinasi biar enak berangkatnya. Banyak juga para ayah yang saling berkenalan termasuk aku. Barang-barang yang dipersiapkan juga kurang lebih seperti halnya camping yang jauh dari "peradaban". Berangkat dari sekolah secara mandiri, yang ga ada alat transportasi bisa numpang di mobil yang masih bisa ditumpangi.

Setelah tiba di lokasi camping, para ayah berkegiatan cukup padat. Mulai dari mendirikan tenda, pembetukan "suku", pembukaan, masak, hingga gala dinner yang seru. Malamnya diadakan coaching clinic tentang ayah bercerita oleh Kak Hadian Maryadi

Hari kedua pun tidak kalah seru. Para ayah diajak tracking ke hutan dimana ada beberapa pos yang menyediakan permainan seru yaitu memanah, patil lele, main kelereng, dan gobak sodor. Benar-benar mengingatkan permainan ayah-ayah di masa anak-anak dulu. Para ayah tidak segan untuk tertawa dan bersenang-senang sejenak melupakan hal terkait pekerjaan

Jumat, 21 Desember 2018

Race Lari di 2018


Bagi sebagian orang yg hobi lari, race merupakan suatu ajang pembuktian latihan selama ini dan sekalian jalan-jalan juga sih. Aku bukan termasuk maniak race karena memang untuk race di luar kota butuh biaya yang tidak sedikit. Jadi aku ngikuti race kecil-kecilan aja sih di kota kebanggaan Palangka Raya
  1. Kalteng Pos Run 7k
  2. Diadakan oleh koran harian lokal Kalteng Pos. Biaya pendaftara Rp. 150.000,- (harga komunitas) menempuh jarak (dalam catatan GPS jam aku) 8,45k meskipun tajuknya 7k


  3. Mandiri Jakarta City Marathon 2018
  4. Diadakan oleh Bank Mandiri. Aku hanya dapat slot 5k seharga Rp. 125.000,- (harga early bird). Sayangnya race ini ditunda atau mungkin dibatalkan H-3 sebelum penyelenggaraan. Kecewa berat karena udah terlanjur berangkat akhirnya jalan-jalan aja sama keluarga. Di refund biaya pendaftaran tapi akomodasi enggak!

  5. Fun Run 3k (1st Anniversary Palangka Raya Runners)
  6. Diadakan oleh komunitas lari Palangka Raya Runners (Indorunners Palangka Raya) bertajuk Fun Run 3k untuk merayakan ulang tahun pertama mereka. Biaya pendaftaran Rp 80.000,-

  7. Kalteng Damai Night Run 2018
  8. Diadakan oleh TNI Angkatan Darat untuk memperingati Hari Juang Kartika. Kategori 5k (gratis)

Yah cuma 4 race (1 batal) itu aja race di tahun 2018. Semoga di tahun 2019 bisa ikutan race major minimal 1 kali lah dan kategori HM

Rabu, 07 November 2018

Refund Penerbangan di Traveloka



Ok langsung aja ya. Mhn maaf kalo tulisan kali ini rada berantakan maklum nulisnya juga buru-buru memanfaatkan waktu istirahat kantor yang mepet

Jadi, beberapa waktu lalu aku berencana untuk jalan-jalan sekeluarga ke Jakarta. Tentunya transportasi yang paling pas ya pake pesawat jadi aku pesannya via Traveloka. Biar mudahnya aku bikin semacam kronologi aja ya

  1. Minggu, 14 Oktober 2018 pukul 06.10 wib aku melakukan booking dan pembayaran tiket maskapai BATIK AIR dengan rute Palangka Raya (PKY) - Jakarta (CGK) untuk 2 orang dewasa dan 1 anak seharga Rp. 2.043.264. Kebetulan ada promo menggunakan paylater akhirnya aku pake fasilitas itu dengan memanfaatkan cicilan 3 bulan
  2. Senin, 15 Oktober 2018 pukul 07.19 wib dapat SMS dari BATIK AIR kalo penerbangannya dibatalkan dan diminta untuk melakukan refund
  3. Pada hari yang sama aku ke kantor LION yang ada di bandara karena kebetulan kantor aku dekat dengan bandara dan menanyakan kebenaran pembatalan penerbangan. Ternyata benar dan disarankan oleh pihak LION untuk langsung meminta refund via travelokanya menggunakan alasan PEMBATALAN OLEH MASKAPAI. Membaca dari S&K refund tidak dapat dilakukan dalam 1-2 hari. Oke lah gak apa-apa toh pake paylater juga
  4. Beberapa hari kemudian refund masuk ke paylater aku sebesar Rp. 922.500,- Nah loh harusnya kan dibalikin 100%. Artinya masih ada kekurangan Rp.  1.120.764,-
  5. Karena kesibukan ya sudah berhari-hari didiamkan. Dan hari ini tanggal 7 Nopember 2018 aku coba untuk menghubungi traveloka via telepon
  6. Dijelaskan sama operator terkait refund 100% dan benar seharusnya refund aku 100%. Untuk memprosesnya, operator meminta aku mengirim bukti SMS pembatalan dari maskapai dan menyebutkan nomor pesanan via email
  7. Ga berselang lama, aku langsung kirim permintaan dokumen yang dimaksud
  8. Setelah beberapa kali dapat email proses refund, akhirnya yang Rp. 1.120.764,- dikembalikan lagi ke akun paylater aku kurang lebih 1 jam dari pengiriman bukti pembatalan maskapai

Sebuah pengalaman berharga yang mungkin bisa jadi pembelajaran buat para pembaca yang suka traveling atau sering menggunakan jasa penerbangan khususnya pengguna Traveloka

Bagi yang pengen tanya atau komentar silahkan ya di kolom komentar

Rabu, 03 Oktober 2018

Palangka Raya Berkabut Asap 2018: Berbagi Masker


Beberapa minggu ini Palangka Raya mulai diliputi kabut asap efek dari kebakaran hutan. Sejak pagi hingga malam aroma asap tercium jelas di indera penciuman. Konon kata orang-orang kesehatan, kalo sering terpapar asap kayak gini memicu infeksi saluran pernafasan.

Beranjak dari hal itu kami dari komunitas Palangka Raya Runners berinisiatif untuk membagikan masker. Mungkin tidak banyak membantu tapi itulah salah satu bentuk kepedulian kami untuk daerah kami sendiri

Bermodalkan uang sumbangan anggota dan uang kas maka kami membeli masker yang akan dibagikan di salah satu titik ramai yang ada di kota tercinta yang berjuluk Kota Cantik ini. Peminatnya ternyata banyak, menandakan kepedulian warga terhadap kesehatan sendiri itu masih cukup besar.

Menurut situsnya BMKG, kandungan PM10 di udara kota Palangka Raya sudah melebihi batas "baik". Oh ya PM10 adalah Partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer) atau bisa dibilang debu yang jika melebihi batas normal dan terhirup dalam jangka waktu lama akan sangat mempengaruhi kesehatan khususnya pernafasan

Harapan kami adalah semoga kabut asap ini tidak semakin parah dan segera berakhir.
Berikut foto-foto kegiatan berbagi masker Palangka Raya Runners yang juga merupakan regional dari Indorunners









Selasa, 04 Juli 2017

Danau Caramin Banjarbaru


Bagi penikmat jalan-jalan di Kalimantan Selatan pasti tau ada danau yang diberi nama Danau Caramin. Kalau di-bahasaindonesia-kan, caramin yang merupakan Bahasa Banjar adalah cermin dalam Bahasa Indonesia. Disebut Caramin karena mungkin karena air di danau ini mempunyai pantulan cahaya yang cukup bagus sehingga bisa digunakan untuk ber-cermin


Danau ini terbentuk dari ulah manusia yang merupakan sisa-sisa penambangan intan yang katanya tidak benar dari suatu perusahaan tambang. Danau Caramin dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota Banjarbaru menjadikannya destinasi wisata yang mudah dijangkau. Sayangnya se-pemantauan aku, tidak terlihat adanya kendaraan umum dari dan menuju kesana. Semua pengunjung menggunakan kendaraan pribadi baik itu roda 2 ataupun roda 4.

Untuk menuju ke Danau Caramin ini anda bisa menggunakan Google Maps. Titiknya di Maps cukup valid sehingga relatif tidak akan bingung menuju kesana.

Letak Danau Caramin di Google Maps
Aku sekeluarga yang kebetulan ada keperluan ke Banjarbaru menyempatkan untuk datang ke tempat wisata yang mulai banyak dipromosikan melalui media sosial ini.

Di gerbang masuk, anda akan dipungut retribusi parkir. Untuk kendaraan roda 4 sebesar Rp. 5.000 dan kendaraan roda 2 sebesar Rp. 3.000. Setelah itu tidak ada retribusi lain kecuali anda menggunakan wahana yang ada disana.

Retribusi Parkir

Suasana di danau cukup panas, aku sarankan untuk membawa payung, topi atau sejenisnya dan jangan lupa kacamata hitam biar tambah gaya untuk mengurangi teriknya cahaya matahari yang masuk ke mata.

Wahana yang disediakan di danau ini diantaranya adalah sepeda air dan naik kelotok (perahu bermotor). Untuk sepeda air dikenakan retribusi Rp. 20.000/30 menit sedangkan naik kelotok kalo ga salah (mohon koreksi kalo aku salah) sebesar Rp. 20.000/orang/1 kali keliling danau. Kritik aku untuk wahana sepeda air adalah kurangnya fasilitas pengamanan seperti life jacket yang kesannya seadanya saja ditaruh di wahananya bahkan hanya ada life jacket tiup untuk anak-anak sedangkan untuk naik kelotok sudah lebih bagus karena tiap penumpang disediakan life jacket standar

Naik sepeda air
Ada sebuah cafe yang cukup nyaman untuk bersantai disana namanya Mirror Cafe. Cafe ini menyediakan photo both. Jika ingin berfoto disana kita harus melapor dan antri. Oh ya untuk berfoto di photo both Mirror Cafe ini dikenakan tarif Rp. 3.000/rombongan jika tidak berbelanja disana atau gratis bagi pengunjung yang berbelanja.

Photo both di Mirror Cafe

Photo both di Mirror Cafe

Disediakan juga photo both gratis bagi pengunjung berupa sejenis ayunan yang letaknya agak ke tengah danau. Untuk mencapai ayunan tersebut anda harus sedikit nyebur ke air yang tinggi selutut orang dewasa.

Alhasil celana babah basah



Berfoto di tepi danau
Berfoto di tepi danau


Senin, 29 Mei 2017

Ngabuburit Run



Seperti anjuran para pemerhati kesehatan, olahraga tetap harus dilakukan pada saat berpuasa namun perlu diatur baik waktunya ataupun berat tidaknya suatu olahraga.

Pun begitu juga aku yang lagi belajar lari ini. Hari kedua ramadhan tahun ini kembali aku belajar lari. Bertempat di sekitar Bundara Tugu Joeang Palangkaraya yang setiap harinya ramai orang berlari. Target pun ga muluk2. Setelah pernah mampu berlari saat puasa beberapa minggu yang lalu sejauh 2 km aku pun optimis setidaknya bisa sampe jarak itu.

Sekitar jam setengah 5 sore langkah kaki berlari dimulai dari bundaran ke arah Jalan Adonis Samad. Aku selalu memilih rute ini biar dapat jarak setidaknya 1,7 km untuk bolak-balik, sisanya baru muterin bundaran sampe target tercapai atau sampe ga kuat lagi.

Mungkin karena cuaca yang memang cukup panas akhirnya aku nyerah di 1,6 km. Udah ga sanggup lagi. Mata udah mulai berkunang-kunang dan mulai terasa mau muntah. Bisa jadi ini karena cuaca yang cukup panas dan kondisi aktifitas yang memang hari itu banyakan bersantainya di rumah karena hari libur atau bisa jadi karena pace-nya kekecilan (harusnya sih pace 7 keatas)

Beberapa faktor pendukung juga nampaknya kurang mendukung. Diantaranya pake kaos yang memang kainnya agak panas dan tidak menyerap keringat serta headset bluetooth yang ga dicek sebelum berlari yang akhirnya kehabisan baterai.


Selasa, 23 Mei 2017

Amanah Borneo Park Banjarbaru


#hufffhhh #hufffhhhh #huffffhhhh.... #hactchiim!!!

Debunya banyak banget sih nih blog. Asli beberapa bulan terakhir ini blog sangat tidak tersentuh. Jangankan untuk posting, buka dashboard-nya aja ga. Terakhir klo ga salah ngurus blog ini waktu mau perpanjang domainnya aja.

Nah untuk mengurangi debu-debu yang ada, maka posting acara jalan-jalan kemaren aja deh.



Mungkin beberapa dari pembaca khususnya daerah Kalimantan Selatan sudah pernah mendengar tempat wisata baru bernama Amanah Borneo Park (yang selanjutnya aku singkat ABP aja) yang berada sekitar 10 km dari Lapangan Murjani Banjarbaru ini. Kebetulan waktu itu aku ada acara di Banjarmasin dan sedikit keperluan di Martapura jadinya sekalian mampir ke tempat yang aku tau dari instagram ini.

Rute menuju ke ABP sangat mudah ditempuh. Sekitar 20 menit dari pusat kota Banjarbaru. Akses jalannya pun bagus dan terbilang mulus dengan trafik lalu lintas lengang. Jika dari arah Banjarbaru maka bergeraklah ke arah Banjarmasin dan pada lampu merah sebelum Brimob Kalsel belok ke kiri. Jalan lurus aja hingga masuk ke Jalan Palam yang jaraknya sekitar 6 km. Bingung?? Yah pake aja Google Maps dijamin nyampe karena waktu itu aku juga pake itu hehe....

Rute by google map

Setelah sampai di gerbang ABP, maka kita akan ditagih retribusi parkir. Untuk mobil sebesar Rp. 5rb. Untuk motor aku kurang tau silahkan dicoba aja maksimal sama sih kayak mobil hehe.... Untuk tiket masuk akan dikenakan Rp 20rb/orang, dapat gelang kertas sebagai tiket masuk dan air mineral 330 ml.


Di dalam ABP ada beberapa permainan/wahana yang bisa kita mainkan. Sayangnya wahana ini tidak termasuk dalam perhitungan tiket masuk tadi artinya kita akan bayar retribusi lagi jika ingin memainkannya. Beberapa wahansa yang sudah ada adalah Wahana Tangkap Ikan, Wahana Taman Kelinci, Wahana Taman Lalu Lintas, Wahana Flying Fox, Wahana Jembatan Goyang, dan Wahana Sepeda Udara. Wahana yang sedang dalam penyelesaian adalah Wahana Refleksi Ikan. Untuk tarif tiap wahana bisa dilihat di gambar berikut

Tarif Wahana di ABP





Jembatan Goyang




Sepeda Udara


Bagi yang tidak ingin bermain di wahana, bisa juga sekedar bersantai di taman dan warung yang disediakan. Bagi pengunjung juga disediakan Musholla yang sangat nyaman untuk sholat tepat di pintu keluar.

Oke segitu dulu deh ngepost blog-nya. Lanjut kerja hehe.... Berikut foto-foto kami di ABP

Kasih makan kelinci

kasih makan kelinci

Berani tapi takut

Flying fox tandem

Biarkan si anak bergerak bebas

Senyum karena akhirnya nyampe

Biar ga boong udah sampe ABP

Ikan.. ikan...

Babahnya numpang eksis